Ekonomi Dunia di Persimpangan Jalan
Sabtu, 10 Nov 2007 11:40 WIB
Jakarta - Belum berakhirnya dampak krisis subprime mortgage ditambah tingginya harga minyak dunia membuat ekonomi dunia kini berada di persimpangan jalan.Krisis subprime mortgage telah membuat perekonomian AS melemah hingga triwulan IV-2007 dan diperkirakan masih akan berlanjut pada 2008.Jika bank sentral negara besar berhasil meredam dampak krisis subprime mortgage maka ekonomi global akan segera memulihkan diri. Namun bila tekanan tersebut tidak cepar teratasi ekonomi global memasuki masa perlambatan."Perekonomian dunia kini berada di persimpangan jalan. Kisah subprime di AS masih akan berlanjut dan respons dari bank-bank sentral khususnya di negara besar akan menentukan perkembangan ekonomi dunia pada satu atau dua kuartal mendatang," kata Head of Research Standrad Chartered Asia, Nicholas Kwan dalam rilis yang disiarkan, Sabtu (10/11/2007).Meski demikian Kwan melihat ekonomi Asia secara umum termasuk Indonesia akan terus melaju menghadapi tantangan-tantangan di atas karena didukung fundamental ekonomi yang kuat.Labilnya ekonomi global ini yang dimotori AS dan Eropa, lanjut Kwan, justru bisa memberikan kesempatan bagi ekonomi Asia. Terutama jika pembuat kebijakan dinegara-negara Asia dapat menangani tantangan-tantangan yang ada.Pasar saham di AS dan Eropa belakangan terus mengalami tekanan setelah sejumlah pengelola-pengelola dana besar seperti Citigroup mengalami kerugian akibat krisis subprime.Sementara Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke dalam pidato di depan kongres AS 8 November lalu, mengakui akan ada perlambatan ekonomi pada kuartal keempat ini.Terlebih nilai tukar dolar AS juga terus mengalami penurunan terhadap mata uang utama dunia lainnya seperti euro, pounds dan yen yang berimbas pada naiknya harga minyak dunia.
(ir/ir)











































