Efek Perang AS-Iran, Inggris Dihantam Badai PHK & Krisis Lapangan Kerja

Efek Perang AS-Iran, Inggris Dihantam Badai PHK & Krisis Lapangan Kerja

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 29 Mei 2026 15:25 WIB
Warga berolahraga di dekat kawasan Big Ben, London, Inggris, Minggu (18/1/2026). Big Ben atau Elizabeth Tower menjadi ikon di kota London yang dibangun pada tahun 1859. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA
Jakarta -

Badai pemutusan hubungan kerja (PHK) seketika mengguncang Inggris efek perang Amerika Serikat (AS) dan Iran. Tingkat pengangguran di Inggris secara tidak terduga meningkat, sementara jumlah lowongan pekerjaan turun ke level terendah dalam lima tahun terakhir.

Berdasarkan laporan resmi dari Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS), tingkat pengangguran meningkat menjadi 5% pada kuartal I-2026. Di sisi lain jumlah lowongan pekerjaan turun sebanyak 28.000 atau 3,9% menjadi 705.000 selama Februari-April 2026, terendah sejak April 2021.

"Sektor-sektor dengan gaji rendah seperti perhotelan dan ritel telah mengalami penurunan terbesar dalam jumlah lowongan dan jumlah karyawan, baik dalam beberapa bulan terakhir maupun selama setahun terakhir," kata Direktur Statistik Ekonomi ONS, Liz McKeown dikutip dari BBC, Jumat (29/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adanya penurunan lowongan pekerjaan dikarenakan dunia usaha menunda perekrutan. Kemudian peningkatan pengangguran terkait biaya tenaga kerja yang lebih tinggi, yang mencakup perubahan pajak ketenagakerjaan.

Para analis memperingatkan bahwa permintaan tenaga kerja kemungkinan akan terus melemah jika konflik berlangsung semakin lama. Peningkatan pengangguran yang dikombinasikan dengan perlambatan pertumbuhan pendapatan kemungkinan akan membuat Bank of England (BoE) menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi.

ADVERTISEMENT

Pertumbuhan pendapatan di Inggris rata-rata turun menjadi 3,4% pada kuartal I-2026 dan 0,3% lebih tinggi setelah inflasi diperhitungkan. Biasanya pertumbuhan upah yang melambat seperti itu akan meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga, tetapi kondisi saat ini berbeda.

"Mengingat kekhawatiran inflasi, suku bunga tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama," ucap Kepala Strategi di Wealth Club, Susannah Streeter.

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads