Biang Kerok Harga Ayam Hidup Anjlok

Biang Kerok Harga Ayam Hidup Anjlok

Aulia Damayanti - detikFinance
Minggu, 31 Mei 2026 05:55 WIB
Peternak ayam di Banten protes ada perusahaan jual ayam di bawah ketentuan
Foto: Peternak ayam di Banten (Iqbal/detikcom)
Jakarta -

Harga ayam hidup di peternak mengalami penurunan signifikan. Penurunan ini terjadi karena pembelian di Rumah Pemotongan Hewan Unggas (RPHU) jauh di bawah harga acuan yang ditentukan pemerintah, yaitu Rp 19.500 per kilogram (kg).

Kementerian Pertanian mengajak seluruh pelaku industri memperkuat kolaborasi menjaga keseimbangan pasar, termasuk melalui pola pembelian yang tidak memperburuk tekanan harga di tingkat peternak.

"Kami mengimbau dan mengharapkan komitmen bersama agar RPHU jangan sampai membeli ayam di bawah harga acuan yang telah disepakati," ujar Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH, I Ketut Wirata, dalam keterangan tertulis Sabtu (30/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketut menegaskan rumah potong hewan unggas memiliki peran strategis dalam rantai pasok perunggasan nasional karena menjadi salah satu instrumen penting dalam penyerapan produksi peternak dan pengendalian pasokan di pasar.

Diketahui harga ayam hidup di peternak saat ini berada di level Rp 15.000/kg. Hal ini diketahui dari hasil rapat Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementan menggelar rapat koordinasi bersama Asosiasi Rumah Potong Unggas Indonesia (ARPHUIN) dan pelaku rumah potong hewan unggas (RPHU).

ADVERTISEMENT

"Informasi yang kami dapat, khususnya di Jawa Tengah, ada live bird dijual di harga Rp 15.000/kg. Kondisi ini sangat berat bagi peternak mandiri atau peternak skala kecil," ungkapnya.

Sebagai bagian dari upaya stabilisasi, Ditjen PKH juga mengambil langkah pengendalian dengan menunda sementara rekomendasi usaha tertentu di sektor perunggasan hingga harga kembali sesuai dengan acuan pemerintah.

"Selama harga belum sesuai acuan pemerintah, seluruh rekomendasi terkait pelaku usaha terkait perunggasan di Ditjen PKH diminta untuk ditunda sementara," kata Ketut.

Ketua ARPHUIN Sigit Pambudi mengatakan rumah potong hewan unggas tetap berupaya menyerap produksi peternak untuk membantu menjaga keseimbangan pasar.

"Situasi yang kami hadapi memang sama-sama sulit. Jadi bukan sesuatu yang kemudian euforia kami mengambil untung atau mengambil kesempatan," kata Sigit.

Menurut dia, rumah potong hewan unggas tetap menjalankan kegiatan pemotongan secara maksimal, termasuk selama masa libur panjang, untuk membantu penyerapan ayam hidup dari peternak.

"Meskipun tanggal merah kami tetap gaspol melakukan pemotongan untuk menyerap ayam. Jadi kalau kami menekan harga itu tidak ada," kata Sigit.

Hal senada disampaikan Keenan Pardede yang mewakili RPHU PT Charoen Pokphand Indonesia. Ia mengatakan pelaku usaha telah memaksimalkan kapasitas pemotongan untuk membantu penyerapan produksi peternak di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih.

"Kami di RPHU sudah memaksimalkan pemotongan, hampir 400 truk dipotong tiap harinya," kata Keenan.

Menurut dia, pelaku usaha juga berupaya mengikuti arahan pemerintah terkait harga pembelian ayam hidup meskipun menghadapi tantangan biaya produksi yang meningkat.

"Kami juga sudah mengikuti arahan Rp 19.500 dan itu menjadi beban produksi yang cukup berat. Karena itu kami berharap lewat forum ini kita bisa kompak," tutur Keenan

(ada/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads