KAI Bakal Jadi Holding, INKA Subholding

KAI Bakal Jadi Holding, INKA Subholding

Ilyas Fadilah - detikFinance
Kamis, 04 Jun 2026 09:00 WIB
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin rapat dengan Komisi VI
Foto: Ilyas Fadilah
Jakarta -

Merger PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menemui titik terang. Menurut Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, penggabungan kedua perusahaan akan rampung tahun ini.

Bobby menjelaskan, merger merupakan arahan langsung dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Pemerintah memang berupaya merampingkan jumlah BUMN dengan alasan efisiensi dan efektivitas, salah satunya melalui proses merger.

"Oh iya itu arahan Danantara. Iya, pokoknya (rampung) tahun ini," ujar Bobby saat ditemui usai rapat dengan Komisi VI di DPR RI, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bobby menyebut KAI akan berperan sebagai holding atau perusahaan induk setelah penggabungan tersebut. Sementara INKA menjadi subholding.

"Holding, kita holding. INKA jadi subholding," tuturnya.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI Rizal Bawazier mengaku setuju dengan rencana penggabungan KAI dan INKA. Menurutnya poses tanda tangan akuisisi akan dilakukan bulan November.

"Saya secara pribadi dan fraksi juga mungkin setuju, di sini ada surat dari BP BUMN, di mana ada rencana integrasi KAI sama INKA, ini sangat bagus. Dan rencananya akan ada tanda tangan di November, tanda tangan akuisisi INKA di November," sebut Rizal saat rapat dengan Bobby.

Ia berharap integrasi ini dapat mengurangi jumlah impor dari KAI dan mengalihkannya ke INKA. Rizal berpendapat INKA dapat dimanfaatkan untuk memproduksi kebutuhan operasional KAI.

"Karena kalau kita lihat di sini memang masih banyak terus terang kereta-kereta yang diimpor, sayang sekali pemanfaatan INKA ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk memproduksi yang dibutuhkan oleh KAI. Sayang sekali kalau harus terus impor dari Jepang atau China. Ini yang saya pikir Danantara mau, di mana memanfaatkan INKA sebaik-baiknya," bebernya.

Rizal juga berharap INKA dan KAI bisa saling membantu memenuhi kebutuhan satu sama lain. Ia menyarankan KAI menahan investasi yang dinilai belum diperlukan dan mengalihkannya ke INKA.

"(INKA) kalau ada masalah minta dukungan ke KAI. Investasi-investasi KAI yang belum perlu mendingan buat dukung INKA. Jangan kita terlalu banyak impor lagi," tutup Rizal.

Tonton juga video "KAI Catat Laba Bersih Rp 2,3 Triliun Sepanjang 2025"

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads