Impor Tabung Ibarat Kebelet Kawin

Impor Tabung Ibarat Kebelet Kawin

- detikFinance
Rabu, 14 Nov 2007 12:41 WIB
Jakarta - Keputusan impor elpiji terkesan tiba-tiba. Belum dibuat kajian yang matang, keputusan impor tabung elpiji sudah dibuat. Jika diibaratkan adalah orang yang sudah kebelet kawin.Penilaian itu disampaikan oleh anggota DPR Zulkifli Hasan dalam rapat kerja Komisi VI dan Menperin Fahmi Idris di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (14/11/2007)."Belum ada keputusan impor tiba-tiba nongol, jangan seperti orang pacaran pengen segera kawin , tanpa izin impor tiba-tiba datang tabung, jangan seperti itu lah," tuturnya.Sikap Menperin Fahmi Idris yang semula menolak impor tabung gas 3 kg terkait program konversi minyak tanah ke elpiji juga dipertanyakan dalam rapat kerja tersebut.Kelangan DPR meminta ketegasan pemerintah yang mana yang akhirnya memutuskan untuk mengimpor apakah Depperin, Depdag atau Departemen ESDM.DPR sebagian besar menyayangkan impor tabung itu, karena tabung elpiji dinilai sebagai barang berteknologi rendah yang bisa dibuat oleh UKM."Ini kelas home industry yang perlu dibina dan dibimbing. Jadi kalau sampai Indonesia tidak mampu, ini sayang, kalau terhalang masalah transportasi maka tabung bisa dibuat di daerah masing masing. Alat itu bisa dibuat dalam waktu singkat oleh UKM yang ditunjuk dan dibimbing," ujar Azam Azman Natawijaya.Menperin sendiri mengakui suaranya kalah soal impor tabung. Usul Depperin yang meminta produsen tabung diberi waktu hingga Februari 2008 ditolak."Usulan kami ditolak, ya bagaimana lagi," ujar Fahmi pasrah.Usul Depperin ditolak karena waktu program koversi yang diperpedek menjadi tahun 2010, semula tahun 2012. Sehingga 12 perusahaan yang mendapat tugas pengadaan tabung diyakini tidak akan mampu memenuhi target."Saya berkilah dari 12 perusahaan untuk memenuhi suplai 10 juta butuh 3 bulan, sekarang realita 5 bulan, kalau diberi 1 tahun bisa 20 juta," ujarnya.Malahan Fahmi pun mengungkapkan ada perusahaan baru di dalam negeri yang bisa memenuhi tabung hingga 32 juta per tahun. (ddn/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads