Perbankan dan Sektor Riil Belum Sejalan di 2008
Kamis, 15 Nov 2007 16:42 WIB
Jakarta - Kalangan perbankan memprediksi kinerja perekonomian Indonesia pada tahun 2008 akan lebih cerah dibanding tahun ini, dengan membaiknya kondisi ekonomi makro dan parameter keuangan Indonesia. Sementara dari kalangan sektor riil justru pesimis hal itu terjadi.Hal tersebut terangkum dalam diskusi Economic Look 2008 yang digelar di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Kamis (15/11/2007)."Hingga saat ini, indikasi keuangan Indonesia tidak ada yang perlu dikuatirkan dan kami berusaha menjaganya tahun depan," kata Deputi Gurbenur Bank Indonesia (BI) Muliaman DH saat menjadi pembicara diskusi.Hal senada juga disampaikan ekonom senior BNI Ryan Kiryanto. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan akan lebih baik dari saat ini yang sebesar 6,5 persen."Memang sebagai konsekuensi pertumbuhan ekonomi, biasanya inflasi juga naik. Tapi itu tak apalah," ujarnya.Ryan memprediksi BI Rate akan turun hingga 7,75 persen ditahun depan. Begitu juga The Fed yang akan turun hingga 4 persen demi menggairahkan kembali perekonomian Amerika Serikat.Ungkapan pesimis datang dari Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofyan Wanandi yang memperkirakan perekonomian Indonesia di tahun depan justru melambat.Faktor penyebab pertama, belum tersedianya infrastruktur yang memadai. Kedua, dampak subprime yang masih terasa. Ketiga, kenaikan harga minyak yang tak terduga, sehingga berdampak pada kenaikan harga di hampir semua produk di tahun 2008 karena kenaikan biaya produksi. "Gimana kita mau investasi kalau nggak ada listrik, pelabuhan masih macet?Belum lagi ketidakpastian gas untuk industri keramik yang masihdimonopoli. Pertanyaannya, apa ada daya beli menghadapi kenaikan tersebut?" keluhnya.Sofyan menambahkan, kesulitan-kesulitan itu akan bertambah dengan semakin kuatnya tekanan politik 2008 menjelang pemilu 2008, serta pemilihan kepala daerah di beberapa daerah."Makanya saya nggak percaya pertumbuhan 6,8 persen di tahun depan bisa tercapai.Lebih susah lagi kalau bicara kelakuan DPR kita, belum lagi buruh kita, duh!", ujarnya.
(lih/arn)











































