Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menilai penguatan sektor kesehatan menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8%.
Hal tersebut disampaikan keduanya dalam forum yang membahas kerja sama penanganan pandemi dan ketahanan kesehatan di kawasan ASEAN. Menurut Luhut, pembangunan sektor kesehatan akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi.
"Program-program Presiden Prabowo tentang pembangunan masalah kesehatan, upgrading kesehatan yang berapa ribu kesehatan seluruh Indonesia, itu akan membawa juga pada pertumbuhan ekonomi," kata Luhut dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (24/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menilai sektor kesehatan merupakan persoalan kunci yang harus menjadi fokus pemerintah. Oleh karena itu, berbagai upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan perlu dilakukan agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Dan saya setuju dengan Pak Menteri Budi, memang konkret karena itu langsung dirasakanoleh seluruh masyarakat Indonesia dan tinggal meng-upgrade yang sudah ada. Nah, ini saya kira yang paling penting karena masalah kesehatan itu masalah kunci," beber Luhut.
Bonus Demografi
Sementara itu, Budi mengatakan target pertumbuhan ekonomi 8% harus dikejar secepat mungkin. Sebab, Indonesia memiliki waktu yang terbatas untuk memanfaatkan bonus demografi.
Menurutnya jika momentum bonus demografi terlewat, Indonesia berisiko kehilangan kesempatan menjadi negara maju dengan pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita US$ 14.000. Indonesia akan terjebak sebagai negara middle income selamanya.
"Kalau nggak, kita kehilangan window of opportunity pada saat puncak bonus demografi kita, dan sekali sudah kehilangan momentum, kita akan middle income forever," ujarnya.
Budi mengungkapkan sektor kesehatan memiliki potensi besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, manfaat ekonominya belum sepenuhnya dirasakan Indonesia karena sebagian besar produk kesehatan masih berasal dari impor.
"Memang semua belanja ini belum tertranslasikan jadi pertumbuhan ekonomi di sektor kesehatan,karena sebagian besar masih import. Jadi, yang enjoy GDP growth dan job growth-nya itu di negara lain," sebut Budi.
Oleh karena itu, ia mendorong pengembangan industri kesehatan nasional melalui hilirisasi rantai produksi. Menurutnya, banyak bahan baku obat yang sebenarnya bisa diproduksi di dalam negeri apabila rantai industrinya dibangun secara utuh.
"Jadi, kalau semua rantai produksi atau hilirisasi ini bisa dibikin di Indonesia, belanja yang 12-13% tubuh itu bisa ditranslasikan jadi GDP di sektor kesehatan," tutup Budi.
Simak juga Video 'Prabowo: Katanya Negara Tambah Kaya, Kok Rakyat Miskin Tambah?':










































