Terhitung sejak mencuatnya isu pembalakan ilegal (illegal logging) tahun 2005, banyak perusahaan kayu lapis yang tutup karena kesulitan bahan baku dan biaya produksi yang meningkat akibat kenaikan harga BBM.
Demikian dikatakan Ketua Badan Revitalisasi Industri Kehutanan Soewarni di acara The 2nd Furniture Technology and Woodworking Machinary 2007 di PRJ, Kemayoran, Selasa (20/11/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Makin lesunya industri kayu lapis Indonesia juga tercermin dari volume dan nilai ekspor. Untuk ekspor kayu lapis sampai akhir 2006 mencapai US$ 1,6 miliar, sementara dari Januari sampai September 2007 nilai ekspor kayu lapis baru US$ 1 miliar. Demikian juga ekspor woodworking, selama 2006 nilai ekspor mencapai US$ 1,3 miliar sementara sampai September tahun ini nilai ekspor baru US$ 970 juta.
Soewarni juga mengatakan masalah peraturan daerah yang tumpang tindih turut membebani industri kehutanan. "Misalnya saja, kayu bundar keluar dari satu provinsi kena retribusi dengan alasan kena PAD (pendapatan asli daerah)," ujarnya.
Minimnya pasokan membuat harga jual ekspor kayu lapis naik dari US$ 460 menjadi US$ 480 per meter kubik. Sementara hargaΒ jual ekspor woodworking juga meningkat dari US$ 500 menjadi US$ 670 per meter kubik. Harga ekpor woodworking diperkirakan akan terus naik menjadi US$ 700 per meter kubik
Dalam kesempatan yang sama Dirjen Industri Agro dan Kimia Benny Wahyudi mengatakan ekspor industri pengolahan kayu primer mengalami penurunan signifikan. Tahun 2002 volume ekspor industri pengolahan kayu primer mencapai 4 juta ton dengan nilai US$ 1,89 miliar namun tahun 2006 volume ekspor turun menjadi 2,08 juta ton senilai US$ 1,57 miliar. (ard/ir)











































