Penandatanganan kerjasama tersebut dilakukan bersamaan dengan perayaan 40 tahun sekaligus ASEAN Summit ke-13 di Singapura, Selasa (20/11/2007).
Pemimpin negara yang ikut menandatangani kerjasama tersebut adalah Sultan Brunei Hassanal Bolkiah, PM Kamboja Samdech Hun Sen, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, PM Laos Bousone Bouphavanh, PM Malaysia Abdullah Badawi, PM Myanmar Jenderal Thein Sein, Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo, PM Singapura Lee Hsien Loong, PM Thailand Surayud Chulanont, PM Vietnam Nguyen Tan Dung.
Dalam deklarasi tersebut disepakati untuk mengadopsi AEC blueprint, dimana para negara anggota ASEAN akan mengimplementasikannya pada 2015.
"AEC Blueprint akan mentransformasikan ASEAN menuju pasar tunggal dan basis produksi, kawasan ekonomi yang punya daya saing tinggi, kawasan yang memiliki pembangunan ekonomi pantas dan kawasan yang terintegrasi penuh dengan ekonomi dunia," jelas deklarasi tersebut.
Dalam dokumen tersebut akan menyerukan pengurangan bea masuk impor untuk semua produk, kecuali untuk beberapa item produk yang sensitif pada tahun 2010 untuk 6 negara anggota besar dan 2015 untuk negara yang lebih kecil seperti Kamboja, Laos, Malaysia dan Vietnam.
Untuk mencapai tujuan tersebut tidak mudah. Para pemimpin negara ASEAN harus menunjukkan kemauan politiknya jika kawasan tersebut akan bertransfrormasi menjadi kawasan perdagangan yang bersatu.
"Kami harus melihat masalah ini dengan cara yang sangat sangat positif. Kami tidak dapat menghentikan jam, kita harus membuat diri kita lebih kompetitif," ujar Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu seperti dikutip dari AFP.
(qom/ir)











































