Selain itu pelaku usaha bisa menghemat karena proyek berbasis CDM akan disubsidi Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dan Japan Carbon Financial (JCF).
Hal tersebut disampaikan Dirut Bank Ekspor Arifin Indra di sela-sela seminar internasional mengenai CDM di Hotel dan Resor Ritz Carlton, Nusa Dua, Bali, Rabu (21/11/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Funding-nya dari negara Jepang, kita yang menjadi agent-nya, jadi bank kustodiannya," ujarnya.
JBIC dan JCF belum menentukan berapa dana proyek CDM, namun Arifin mengestimasi angkanya minimal US$ 5 miliar. "Namun itu masih pre-eliminary, masih bisa bertambah," ujarnya.
Proyek berbasis CDM sebenarnya merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Protokol Kyoto pada tahun 1997 untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di dunia.
Untuk Indonesia proyek-proyek CDM bisa diterapkan antara lain di sektor kelapa sawit yang sampahnya menghasilkan gas rumah kaca. Jika industri kelapa sawit ini menerapkan CDM, maka CPO sebagai hasil akhir produk mereka akan memiliki nilai tambah yang lebih di pasar internasional. (ddn/ard)











































