Pemerintah Pede Inflasi Mulai Reda Bulan Depan

Pemerintah Pede Inflasi Mulai Reda Bulan Depan

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 03 Jul 2026 15:22 WIB
Tukang becak mengangkut bahan makanan di kawasan Pasar Gang Baru Pecinan, Semarang, Jawa Tengah, Senin (3/11/2025). Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat pada Oktober 2025 terjadi inflasi sebesar 0,40 persen secara bulanan dengan
Ilustrasi transaksi warga di pasar. Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Jakarta -

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso memperkirakan inflasi bakal melandai pada bulan depan. Menurutnya, lonjakan inflasi Juni 2026 lebih banyak dipengaruhi faktor musiman dan penyesuaian harga yang bersifat sementara.

Susiwijono menjelaskan, kenaikan inflasi ke level 3,34% secara tahunan pada bulan Juni didorong oleh komponen administered prices atau harga yang ditentukan pemerintah, seperti kenaikan harga BBM non subsidi. Sementara kenaikan harga pangan masih dipengaruhi faktor musiman.

"Ya inflasi kan kemarin Juni 3,34%. Sebenarnya kan lebih banyak pertama naiknya dari komponen administered prices. Administered prices itu kan faktor utama naiknya pasti karena Juni kemarin BBM non subsidi kan memang penyesuaian harga sudah pasti naik," kata Susiwijono di kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (3/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, inflasi inti atau core inflation tercatat sebesar 2,7%. Menurutnya, angka tersebut masih menunjukkan kondisi yang sehat karena menandakan daya beli masyarakat tetap terjaga.Dia menilai inflasi secara keseluruhan juga masih berada dalam rentang sasaran pemerintah, yakni 2,5% plus minus 1%.

ADVERTISEMENT

Memang sudah mendekati batas atas target dalam APBN, namun pihaknya optimistis tekanan harga dapat kembali mereda dalam beberapa bulan ke depan.

Pemerintah, lanjut Susiwijono, telah menggelontorkan sejumlah stimulus untuk menjaga konsumsi masyarakat. Langkah tersebut dilakukan melalui bantuan pangan, penguatan permintaan domestik, hingga subsidi Rp 2.000 per kilogram bagi pengusaha tahu dan tempe yang terdampak kenaikan harga kedelai.

Susiwijono menambahkan, penurunan harga minyak mentah Brent dan WTI akan membantu menekan inflasi karena biaya logistik ikut menurun. Harga minyak dunia memang sempat melonjak di atas US$ 100 per barrel setelah pecahnya perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.

"Dan bulan depan mestinya siklusnya mulai turun. Karena kan juga dengan harga Brent dan WTI-nya juga turun kan mestinya harga-harga yang lain juga ikut turun. Karena ada komponen logistik di situ kan," tutur Susiwijono.

Susiwijono menambahkan koordinasi antara Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat. Berdasarkan laporan sejumlah pemerintah daerah, daya beli masyarakat masih cukup baik dan tekanan inflasi di lapangan dinilai belum mengkhawatirkan.

"Mestinya kalau inflasi ini karena siklusnya, karena harga BBM non-subsidi tinggi, dan karena liburan sehingga administered tinggi. Kalau bulan depan saya yakin pasti akan turun kalau inflasi. Sangat terkendali sih kalau inflasi selama ini kan kita cukup baik mengendalikan semuanya," pungkas Susiwijono menjelaskan.

(ily/hal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads