MSCI memperbarui sikapnya terhadap saham Indonesia. Indeks Global tersebut, mengutip detikFinance, mengucurkan tiga kebijakan bagi Indonesia. Pertama, MSCI mempertahankan untuk membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS). Artinya, MSCI tidak akan menaikkan bobot saham-saham di Indonesia dalam indeks mereka. Hal ini nantinya berdampak pada terhambatnya dana asing pasif (passive funds) yang masuk ke saham Indonesia.
Kedua, MSCI juga tidak akan melakukan penambahan saham RI ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Ketiga, MSCI juga tidak akan melakukan penyesuaian segmen ukuran indeks untuk saham RI, termasuk dari Small Cap ke Standard.
Terkait hal ini, sejumlah pihak mengkhawatirkan dampak di masa depan. Daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor asing berpotensi tertahan dalam jangka pendek. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan status Indonesia sebagai Emerging Market yang belum lama diumumkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ancaman lain terhadap bursa Indonesia juga muncul dari S&P Dow Jones Index (DJI). penyedia indeks internasional ini bahkan mengancam IHSG turun kasta ke level frontier market. Mengutip detikFinance, DJI tengah memasukkan pasar modal RI dalam watchlist tahun 2027 yang memuat opsi penurunan kasta tersebut.
Mengutip detikcom yang mengutip laporan S&P Dow Jones Indices Country Classification-2026/2027 Watchlist, terdapat dua opsi reklasifikasi pasar modal RI yakni Special Measures atau Frontier. BEI sendiri mengaku akan terus mencermati pengumuman terkait reklasifikasi S&P DJI tersebut.
"BEI telah mencermati pengumuman S&P Dow Jones Indices mengenai penempatan Pasar Modal Indonesia dalam watchlist untuk evaluasi tahun 2027, yang membuka kemungkinan reklasifikasi status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market," kata Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, dalam keterangannya, Rabu (8/7/2026).
Lalu sejauh mana hal ini akan mempengaruhi kedigdayaan lantai bursa Indonesia? Simak ulasannya dalam detikSore!
Menuju Jawa Timur, detikSore akan mengulas kabar terbaru soal ramai-ramai dua pihak yang memperebutkan hak atas rumah kontrakan di Surabaya. Sebuah keluarga yang sudah menghuni rumah selama tiga generasi enggan berpindah rumah meski mereka sudah menerima uang dari pembeli.
Hal ini bahkan sudah dimediasi hingga level walikota. Mengutip berita detikJatim terbaru, keluarga tersebut berkilah jika mereka tidak keberatan untuk pindah. Namun karena waktu dinilai terlalu pendek, mereka merasa kesulitan untuk menemukan rumah kontrakan baru.
Lalu seperti apa hasil mediasi atas peristiwa yang ramai dibahas di kawasan Surabaya ini? Simak ulasannya dalam detikSore.
Kembali membahas soal fenomena di dunia saham, detikSore akan melihat lebih dekat bagaimana investor secara umum melihat volatilitas saham Indonesia yang berkepanjangan. Seperti diulas dalam detikSore sebelumnya, sejumlah tantangan dihadapi saham indonesia meski sudah memasuki semester II 2026.
Tantangan besar terkini adalah sikap MSCI untuk memperpanjang pembekuan saham Indonesia. Mengutip detikFinance, Indeks global tersebut mempertahankan untuk membukukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS).
Tidak hanya itu, MSCI juga tidak akan melakukan penambahan saham RI ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Selanjutnya penyedia indeks itu juga tidak akan melakukan penyesuaian segmen ukuran indeks untuk saham RI, termasuk dari Small Cap ke Standard
Sejauh mana hal ini dapat mempengaruhi keputusan investor untuk tetap membursa di IHSG? Simak ulasannya dalam Sunsetalk!
Ikuti terus ulasan mendalam berita-berita hangat detikcom dalam sehari yang disiarkan secara langsung langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 15.30-18.00 WIB, di 20.detik.com dan TikTok detikcom. Sampaikan komentar Anda melalui kolom live chat yang tersedia.
"Detik Sore, Nggak Cuma Hore-hore!"











































