Produsen Mobil Tolak Tudingan Penyebab Macet

Produsen Mobil Tolak Tudingan Penyebab Macet

- detikFinance
Sabtu, 24 Nov 2007 10:44 WIB
Jakarta - Penjualan mobl di Thailand dan Malaysia lebih tinggi dibanding Indonesia, tapi dikedua negara itu tidak terjadi kemacetan lalulintas di kota besarya. Produsen mobil pun menolak soal tudingan sebagai penyebab macet di Jakarta.

"Untuk saya kemacetan di Jakarta itu faktornya ada dua, mobil yang kebanyakan atau jalannya yang kurang," kata Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM) Joko Trisanyoto, di acara workshop di Hotel Horison, Bandung, Sabtu (24/11/2007).

Sebelumnya sejumlah pihak menuding produsen mobil sebagai pihak yang ikut bertanggungjawab terhadap kemacetan di Jakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Joko mengatakan untuk mengetahui jawabannya maka harus dilihat perbandingan dengan negara tetangga. Seperti Malaysia yang berpenduduk 24 juta atau jumlah warganya sepersepuluh Indonesia tapi penjualannya mencapai 600 ribu unit per tahun.

Begitu juga dengan Thailand yang berpenduduk 67 juta jiwa atau sepertiga penduduk Indonesia penjualan mobilnya mencapai 700 ribu unit. Sedangkan Indonesia dengan penduduk 200 juta lebih penjualan mobilnya hanya 400 ribu unit per tahun.

"Kalau melihat angka penjualan Indonesia, maka penjualan di Malaysia dan Thailand lebih banyak tapi kok tidak macet ya. Memang dulu di Bangkok jalan-jalannya macet luar biasa tapi kini jalannya lebih baik," katanya.

"Dari sini kita bisa simpulkan penyebabnya apa. Ini lebih persoalan mismanagement," imbuh Joko.

Menurut Joko produsen mobil memang lebih banyak melakukan penjualan di Jakarta lalu kota-kota di Jawa. Ini karena pasar yang banyak terserap memang di wilayah itu.

"Jadi kalau kemacetan yang disalahkan industrinya, lalu dimatikan, berapa banyak pengangguran," tukas Joko.

Mengenai rencana pembatasan BBM tahun 2008, menurut Joko pihak Toyota terus melakukan inovasi dengan membuat produk yang ramah lingkungan seperti mobil hybrid.

"Kalau produsen mobil sebenarnya siap membuat mobil hybrid, tapi masalahnya bagaimana kemampuan persediaan bahan bakarnya," katanya. 
(ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads