Pelaku pasar cemas akan akan persediaan minyak AS yang ketat dan situasi geopolitik yang makin membuat pasar gelisah.
Harga minyak di pasar new York pada perdagangan Jumat waktu (23/11/2007) untuk jenis light sweet crude pengiriman Januari 2008, naik 99 sen ke rekor tertingginya US$ 98,18 per barel
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara di London harga minyak jenis Brent North Sea untuk antaran Januari 2008 pada penutupan perdagangan Jumat (23/11/2007) naik 92 sen ke posisi 95,76 per barel, yang sebelumnya pada Rabu lalu (21/11/2007) sempat ke posisi tertinggi 96,53 per barel.
Harga minyak dunia pada pekan ini semula diprediksi tembus level US$ 100 per barel karena data pemerintah AS yang memperlihatkan persediaan minyak turun lebih besar dari perkiraan. Namun harga minyak setelah hari Rabu (21/11/2007) justru terkoreksi, tertolong libur hari Thanksgiving di AS.
Tapi harga minyak mulai merayap lagi ke posisi atas karena belum jelasnya sikap negara produsen minyak OPEC untuk menambah produksinya demi meredam tingginya harga minyak di pasar.
"Rencana OPEC menambah produksi masih belum ada kepastian, karena sebagian anggota OPEC menilai kenaikan harga lebih karena aksi spekulator dan ketegangan geopolitik," kata Michael Davies, analis dari Sucden seperri dilansir AFP, Sabtu (24/11/2007).
Harga minyak sepanjang tahun 2007 sudah melonjak hingga 64%. Penyulutnya karena terganggunya produksi di Nigeria, permintaan yang tinggi dari China dan India, serta kekhawatian masalah nuklir Iran.
Sementara di Wina Austria, pada Jumat (23/11/2007) berlangsung pertemuan pengawas nuklir PBB yang membicarakan kemungkinan sanksi untuk Iran. Negara barat yang dimotori AS terus menerus menuduh Iran membuat bom atom secara diam-diam. Namun Iran dengan tegas menyangkal tudingan tersebut dan mengatakan teknologi nuklirnya digunakan untuk pembangkit listrik.
"Juru runding Iran Saeed Jalili akan bertemu dengan Uni Eropa pada 30 November untuk membahas lagi masalah program nuklirnya. Hasil pertemuan ini bisa saja Iran menghadapi sanksi yang lebih luas yang akibatnya kembali menyulut ketegangan geopolitik," kata Davies.
Tingginya harga minyak belakangan ini juga karena faktor melemahnya dolar AS terhadap euro. Sejumlah pihak sudah mengusulkan agar pembelian minyak menggunakan mata uang yang lebih kuat karena dolar AS terus menerus terpuruk dibanding mata uang global lainnya.
(ir/ir)











































