Black Friday Tak Peduli Muramnya Ekonomi AS

Black Friday Tak Peduli Muramnya Ekonomi AS

- detikFinance
Sabtu, 24 Nov 2007 13:22 WIB
New York, - Konsumen di New York tetap menyerbu pusat-pusat perbelanjaan di hari Jumat setelah libur Hari Thanksgiving atau Black Friday. Konsumen tidak peduli terhadap ancaman resesi  ekonomi AS dan tetap melakukan belanja besar-besaran.

Semula para ekonom memprediksi Black Friday tahun ini hanya mengalami sedikit kenaikan penjualan dibanding tahun lalu karena melemahnya kepercayaan konsumen.    

Namun ternyata meski ekonomi AS sedang lunglai setelah diterjang badai subprime mortgage, konsumen tetap mengantre di depan toko-toko di New York sejak dinihari menyerbu barang-barang yang dijual dengan harga miring.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya sudah ada di depan toko ini sejak pukul 02.30 (Jumat dinihari)," kata Kim Melise (22 tahun) yang menenteng tas besar usai belanja di toko serba ada Bloomingdale's, seperti dikutip AFP, Sabtu (24/11/2007).

Melisa mengaku tetap membeli barang-barang yang dijual dengan harga murah ini meskipun ada ancaman resesi akibat krisis kredit perumahan bergaransi rendah.

Sementara sejumlah staf penjualan juga melaporkan belum ada pengurangan daftar barang untuk pemasaran tahun ini. Sebaliknya permintaan justru bertambah karena meningkatnya pelancong dari Eropa yang sedang menikmati penguatan mata uangnya terhadap dolar AS.

"Kami baru tiba kemarin, kami berbelanja untuk keperluan Natal dan akan kembali lagi pada Senin depan," kata Rachel Brown (33 tahun) yang khusus datang dari Wales demi mendapatkan barang-barang murah di New York.

Kerumunan turis asal Eropa juga banyak terlihat di New York seperti di Fifth Avenue yang datang untuk membeli barang-barang elektronik dan mengantre sejak dini hari.

Kebanyakan konsumen mengaku belanja barang tersebut untuk keperluan Natal. Seperti yang dilakukan Lisa, yang membawa lima tas besar dari hasil berburu barang. Lisa datang ke Manhattan dari Long Island bersama suami dan anaknya.

Sudah menjadi tradisi di AS, Black Friday adalah hari paling sibuk untuk berbelanja setelah libur Thanksgiving untuk keperluan Natal. Pemilik toko pun berharap bisa mencoret tinta merah menjadi tinta hitam di neraca keungannya karena naiknya penjualan.

Diperkirakan terdapat sekitar 133 juta konsumen yang berbelanja di AS dan diharapkan bisa menjadi 'obat' bagi industri ritel dari lesunya ekonomi AS.

Asosiasi pedagang ritel AS memprediksi kenaikan penjualan liburan kali ini hingga 4% sedangkan Ernst & Young menargetkan 4,5%.

Namun meski angka penjualan naik, sejumlah pemilik toko mengakui kalau pembelanja kali ini jumlahnya lebih sedikit. (ir/ard)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads