Greenpeace 'Bajak' Tanker CPO Asal Riau di Rotterdam

Greenpeace 'Bajak' Tanker CPO Asal Riau di Rotterdam

- detikFinance
Sabtu, 24 Nov 2007 15:45 WIB
Jakarta - Aktivis lingkungan Greenpeace memblokir pembongkaran minyak kelapa sawit dari kapal tanker Doroussa di pelabuhan Rotterdam, Belanda. Tanker milik PT Intibenua Perkasatama itu mengangkut lebih dari 10 ribu ton minyak kelapa sawit dari Riau.

Dalam aksi tersebut para aktivis Greenpeace merantai diri mereka di kapal tanker dan membentang spanduk bertuliskan 'Selamatkan Hutan, Hentikan Minyak Kelapa Sawit'.

"Produksi minyak kelapa sawit sudah di luar kendali. Hutan-hutan di Indonesia dihancurkan untuk menanam kelapa sawit yang hasilnya digunakan untuk bahan margarin, kripik dan sabun cuci. Pembabatan hutan harus dihentikan untuk menyelamatkan hutan Indonesia dan untuk mencegah perubahan iklim yang berbahaya," kata juru kampanye kehutanan Greenpeace Internasional Sue Connor seperti dikutip dari situs Greenpeace, Sabtu (24/11/2007).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemblokiran tersebut mengambil momentum konferensi PBB tentang perubahan iklim yang akan dilangsungkan di Bali pada 3 Desember 2007. Greenpeace menyerukan agar pemerintah-pemerintah dunia dalam perundingan di Bali sepakat untuk berunding tentang suatu mekanisme pendanaan guna melindungi sisa hutan tropis di dunia sebagai bagian penting dari tahap berikut dari Protokol Kyoto.

Greenpeace telah membeberkan dampak dari minyak kelapa sawit terhadap hutan dan lahan gambut di Indonesia dengan membuka Kamp Pembela Hutan (Forest Defenders Camp) di Riau dan mendatangkan Kapal Rainbow Warrior di Dumai, pelabuhan terbesar di Indonesia untuk ekspor minyak kelapa sawit.

Dalam laporan Greenpeace bertajuk ‘Menggoreng Iklim’ diungkapkan bahwa sejumlah merek dagang dunia seperti Unilever, Nestle, Procter & Gambler menyebabkan pengrusakan lahan gambut Indonesia. Laporan itu berkesimpulan bahwa moratorium atas pembabatan hutan dan penghancuran lahan gambut merupakan cara yang tercepat, dan paling efektif untuk menurunkan emisi gas rumah kaca di Indonesia.

Lahan gambut merupakan simpanan karbon dan ketika lahan itu dikeringkan, dibalak dan dibakar untuk perkebunan, sejumlah besar karbondioksida terlepas ke udara, mengakibatkan perubahan iklim.

Riau berencana mengembangkan sekitar tiga juta hektar perkebunan kelapa sawit, merusak hutan dan dapat mengancam keberadaan hewan langka, seperti harimau Sumatra. Total luas perkebunan sawit di Riau mencapai 25 persen dari seluruh perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Sementara itu, Belanda merupakan pengimpor terbesar di Eropa untuk minyak kelapa sawit asal Indonesia dan ikut bertanggung jawab terhadap pembabatan hutan dan penghancuran lahan gambut Indonesia. (ard/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads