Dalam aksi tersebut para aktivis Greenpeace merantai diri mereka di kapal tanker dan membentang spanduk bertuliskan 'Selamatkan Hutan, Hentikan Minyak Kelapa Sawit'.
"Produksi minyak kelapa sawit sudah di luar kendali. Hutan-hutan di Indonesia dihancurkan untuk menanam kelapa sawit yang hasilnya digunakan untuk bahan margarin, kripik dan sabun cuci. Pembabatan hutan harus dihentikan untuk menyelamatkan hutan Indonesia dan untuk mencegah perubahan iklim yang berbahaya," kata juru kampanye kehutanan Greenpeace Internasional Sue Connor seperti dikutip dari situs Greenpeace, Sabtu (24/11/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Greenpeace telah membeberkan dampak dari minyak kelapa sawit terhadap hutan dan lahan gambut di Indonesia dengan membuka Kamp Pembela Hutan (Forest Defenders Camp) di Riau dan mendatangkan Kapal Rainbow Warrior di Dumai, pelabuhan terbesar di Indonesia untuk ekspor minyak kelapa sawit.
Dalam laporan Greenpeace bertajuk ‘Menggoreng Iklim’ diungkapkan bahwa sejumlah merek dagang dunia seperti Unilever, Nestle, Procter & Gambler menyebabkan pengrusakan lahan gambut Indonesia. Laporan itu berkesimpulan bahwa moratorium atas pembabatan hutan dan penghancuran lahan gambut merupakan cara yang tercepat, dan paling efektif untuk menurunkan emisi gas rumah kaca di Indonesia.
Lahan gambut merupakan simpanan karbon dan ketika lahan itu dikeringkan, dibalak dan dibakar untuk perkebunan, sejumlah besar karbondioksida terlepas ke udara, mengakibatkan perubahan iklim.
Riau berencana mengembangkan sekitar tiga juta hektar perkebunan kelapa sawit, merusak hutan dan dapat mengancam keberadaan hewan langka, seperti harimau Sumatra. Total luas perkebunan sawit di Riau mencapai 25 persen dari seluruh perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
Sementara itu, Belanda merupakan pengimpor terbesar di Eropa untuk minyak kelapa sawit asal Indonesia dan ikut bertanggung jawab terhadap pembabatan hutan dan penghancuran lahan gambut Indonesia. (ard/ir)










































