5.300 Perusahaan Jepang Bangkrut, Tertinggi dalam 12 Tahun!

5.300 Perusahaan Jepang Bangkrut, Tertinggi dalam 12 Tahun!

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 12 Jul 2026 12:30 WIB
Ilustrasi bendera jepang
Foto: Dok. Reuters
Jakarta -

Perusahaan di Jepang mengalami lonjakan kebangkrutan. Kondisi ini terjadi karena melemahnya nilai tukar yen telah mempercepat inflasi hingga memberi tekanan pada keuangan bisnis khususnya usaha kecil dan menengah.

Berdasarkan Tokyo Shoko Research, jumlah perusahaan bangkrut di Jepang sepanjang semester I-2026 mencapai 5.346 kasus atau meningkat 7,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah itu mencapai level tertinggi dalam 12 tahun.

"Laju kebangkrutan mungkin akan meningkat mulai musim gugur," kata seorang pejabat perusahaan riset dikutip dari The Mainichi, Minggu (12/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jumlah perusahaan bangkrut di Jepang diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan kurangnya tenaga kerja yang berkepanjangan. Selain itu, melemahnya penjualan telah menggerus arus kas perusahaan.

ADVERTISEMENT

Kebangkrutan yang disebabkan oleh kenaikan harga meningkat 27,6% dari periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 439 kasus, sementara yang terkait dengan kekurangan tenaga kerja naik 37,7% menjadi 237 kasus. Di antara kasus-kasus tersebut, kasus yang melibatkan lonjakan biaya tenaga kerja melonjak menjadi 120 kasus atau naik 2,4 kali lipat.

Berdasarkan industrinya, kebangkrutan meningkat di 8 dari 10 sektor. Sektor jasa memimpin dengan 1.819 kasus atau naik 7,2%, diikuti oleh sektor konstruksi dengan 1.026 kasus.

Kebangkrutan meningkat di sembilan wilayah Jepang kecuali Tohoku di timur laut. Paling tinggi terjadi di Hokuriku Jepang tengah dengan kenaikan 37,3%, diikuti oleh Hokkaido di utara dengan kenaikan 17,1%.

Perusahaan riset tersebut mengatakan bahwa situasi di Timur Tengah sudah memengaruhi arus kas usaha kecil dan menengah. Pada Juni 2026 saja, kebangkrutan meningkat 20,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 1.021 kasus.

"Fenomena tersebut terjadi hampir di seluruh wilayah Jepang. Artinya, tekanan yang dialami dunia usaha bukan hanya persoalan daerah tertentu, melainkan mencerminkan perlambatan yang bersifat nasional," muat laporan tersebut.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads