Namun untuk mengembangkannya, Jepang meminta bagi hasil lebih dari 70 persen. Padahal, satu-satunya kontrak pengembangan CBM yang sudah disetujui pemerintah saat ini hanya memberikan bagi hasil sebesar 45 persen untuk kontraktornya, yaitu konsorsium Medco-Ephindo.
Demikian tercantum dalam hasil studi kelayakan yang dilakukan Direktorat Divisi Batubara Kementrian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang yang dikutip detikfinance, Minggu (25/11/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kecuali setelah produksi gasnya bertambah beberapa ratus juta kaki kubik lagi karena potensi gas di lokasi tersebut mencapai 359,1 miliar juta kaki kubik (BCF).
Untuk pengembangannya, diperkirakan memerlukan biaya hingga US$ 326,150 juta, termasuk untuk pengeboran 170 sumur. Sementara harga jual gas yang diminta adalah US$ 5/mmbtu.
Permintaannya tak hanya sampai situ, Jepang juga meminta tax holiday dan bentuk perjanjian jual beli gas (PJBG) yang berbeda dengan gas alam.
Menanggapi itu, Dirjen Migas Luluk Sumiarso menyatakan, permintaan pihak Jepang itu masih harus dibahas oleh pemerintah.
"Mereka kan baru mengajukan, kan sah-sah saja mengajukan," katanya. (lih/mar)











































