Awas! Rupiah Diramal Melemah Hingga Rp 18.200/Dolar AS Minggu Ini

Awas! Rupiah Diramal Melemah Hingga Rp 18.200/Dolar AS Minggu Ini

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 14 Jul 2026 12:49 WIB
Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Penguatan mata uang Negeri Paman Sam membuat kurs dolar AS kembali bertengger di level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Foto: Gilang Faturahman/detikFoto
Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di level 18.100. Sayang, mata uang Garuda ini diperkirakan akan meneruskan tren pelemahan, bahkan berpotensi menyentuh angka di atas Rp 18.200 per dolar AS pekan ini.

"Rupiah ini melemah di atas Rp 18.200 kemungkinan besar akan terjadi. Karena saya sendiri memberikan target di minggu ini itu kemungkinan Rp 18.300-an," kata analis Komoditas dan Mata Uang, Ibrahim Assuaibi kepada detikcom, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya Ibrahim pelemahan rupiah ini banyak didorong oleh faktor eksternal yakni memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Sebab saat konflik terjadi di kawasan di Timur Tengah, harga minyak diperkirakan akan kembali memanas yang membuat kebutuhan akan dolar ikut naik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perang di Timur Tengah ini kan semakin menjadi kan. Kemudian Israel menyerang Lebanon, kemudian Iran dan Amerika pun juga saling serang bahkan menutup Selat Hormuz, sehingga membuat harga minyak itu sudah kembali di atas US$ 80 per barel ya," jelas Ibrahim.

"Walaupun pemerintah sudah mematok untuk minyak mentah itu di US$ 83 per barel di semester kedua. Tetapi kalau nanti seandainya di atas US$ 83 per barel, apa yang terjadi? Berarti kebutuhan dolar itu juga akan tinggi," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Masalahnya kenaikan harga minyak ini akan ikut berimbas pada persoalan struktural di perekonomian nasional. Salah satunya ia menyoroti defisit neraca transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi, terutama minyak mentah untuk subsidi.

"Sebenernya masalahnya kan masalah subsidi. Bank dunia, IMF, itu kan menginginkan agar subsidi dikurangi. Tetapi pemerintah masih mempertahankan subsidi sampai akhir tahun. Ini awalnya nih, dasarnya nih," ujarnya.

"Negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam nggak ada subsidi, cabut semua. Nah Indonesia orang yang paling ngotot gitu kan. Jadi pada saat Indonesia mempertahankan BBM subsidi, ya berarti harus siap rupiah melemah," tutur Ibrahim lagi.

Belum lagi dari sisi pasar modal, banyak perusahaan-perusahaan asing di Tanah Air perlu membagikan dividen atau bagi hasil keuntungan perusahaan terhadap pemilik saham. Membuat permintaan dolar dalam negeri ikut naik yang kemudian mendorong pelemahan rupiah lebih jauh.

Sementara itu, menurutnya belakangan ini kepercayaan investor terhadap pasar dalam negeri Indonesia juga kian melemah. Hal ini dinilai akan mendorong investor untuk memindahkan aset atau modal mereka dari Indonesia ke negara lain.

"Investor bingung dengan kondisi Indonesia saat ini yang carut-marut. Penegak hukum yang dianggap malaikat ada tertangkap korupsi, apalagi yang di bawahnya. Polisi pun yang dianggap penegak hukum itu juga korupsi, Jaksa itu juga sama. Sekarang investor mau lihat ke mana? Sehingga ini yang membuat modal keluar. Jadi wajarlah kalau seandainya rupiah kembali melemah," tegasnya.

Senada dengan Ibrahim, Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad menilai nilai tukar rupiah akan terus mengalami pelemahan. Sehingga besar kemungkinan dolar akan semakin 'ngamuk' hingga tembus ke level Rp 18.200.

"Ada potensi ini melemah ya. Ini kan dengan situasi faktor global Timur Tengah. Karena Timur Tengah ini kan orang akhirnya lari ya ke safe haven, termasuk lari ke Amerika. Dengan katakanlah situasi Timur Tengah,
kalau Timur Tengah lagi konflik, biasanya US dollar-nya justru menguat ya," ujar Tauhid.

Selain faktor eksternal, menurutnya saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia juga sedang mengalami perlambatan. Di mana kondisi ini menurutnya ikut mendorong pelemahan nilai tukar rupiah.

"Kalau kita lihat di 2 bulan terakhir Mei dan Juni ini, ekonomi domestik ini agak relatif menurun. Kalau kita lihat di indeks keyakinan konsumen maupun PMI dan sebagainya, itu merefleksikan penurunan ekonomi dan itu juga cukup membuat rupiah melemah," kata Tauhid.

Tonton juga video "KPK Sita Ratusan Juta Rupiah di Dugaan Suap Proyek Bupati Langkat"

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads