Ini kesimpulan saya setelah mengunjungi dan belanja di beberapa gerai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dan hadir di peringatan hari Koperasi ke 79. Kesimpulan yang (sengaja?) luput diulas berbagai video yang sekarang viral tentang Kopdes.
Kalau Indomaret membangun jaringan distribusi untuk memperkuat ekosistem Salim Group, dan FamilyMart memperkuat ekosistem Wings Group, maka Koperasi Desa Merah Putih membangun jaringan distribusi untuk memperkuat ekosistem ekonomi BUMN dan desa Indonesia.
Selama ini kita mengenal hubungan yang sangat erat antara Indomaret dan Indofood. Dua usaha di ekosistem bisnis Salim Group.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indofood memproduksi berbagai merek seperti Indomie, Indomilk, Chitato, Pop Mie, Bimoli, Bogasari, dan ratusan produk lainnya. Indomaret menjadi salah satu jaringan ritel andalan Indofood untuk mendistribusikan produk-produk tersebut hingga ke seluruh Indonesia.
Model serupa juga terlihat pada FamilyMart Indonesia yang dioperasikan oleh Wings Group. Di FamilyMart hadir berbagai produk Wings seperti Mie Sedaap, Top Coffee, Floridina, Ale-Ale, Giv, So Klin, Daia, Ciptadent, bersama ratusan produk dari pemasok lain.
Seperti Salim Group, Wings Group tidak hanya memproduksi barang konsumsi, tetapi juga memiliki jaringan ritel yang membantu memperkuat distribusi produknya sekaligus menciptakan efisiensi logistik dan pemasaran.
Pola yang sama kini mulai terlihat pada Koperasi Desa Merah Putih, dengan dua skala yang berbeda.
Skala Pertama: Dari Produsen Besar Milik Negara Langsung ke Gerai Kopdes
Apabila Indomaret dan FamilyMart merupakan jaringan ritel swasta yang terhubung dengan grup usaha masing-masing, Koperasi Desa Merah Putih dibangun melalui sinergi koperasi dengan berbagai BUMN. BUMN menjadi pemasok, penyedia layanan, dan mitra strategis.
Di satu lokasi masyarakat dapat memperoleh pupuk bersubsidi dari PT Pupuk Indonesia, LPG bersubsidi dari PT Pertamina, beras SPHP dari Bulog, layanan Pos Indonesia, layanan perbankan dari HIMBARA, produk-produk ID FOOD, benih Sang Hyang Seri, hingga layanan kesehatan dan apotek dengan obat obat murah buatan farmasi milik negara. Seluruhnya hadir dalam satu ekosistem.
Model ini memiliki tujuan yang sangat jelas: memendekkan rantai distribusi dan seperti Indomaret-Indofood chain, menciptakan single end to end ownership of the supply chain yang sebelumnya belum pernah ada untuk produk buatan BUMN.
Dengan ini, menjadi lebih mungkin produk produk bersubsidi buatan BUMN seperti LPG dijual dengan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Pemerintah.
Skala Kedua: Dari Produsen Kecil UMKM Langsung ke Gerai Kopdes
Adalah fakta kalau produk desa seringkali harus berputar dulu ke kota untuk kembali dijual di ritel modern di desa yang sama.
Dan seringkali harus menghadapi biaya konsinyasi yang sangat mahal, hingga 60% dari harga jual di ritel modern.
Tomat yang dibeli dari petani sekitar Rp. 2.000 per kilogram dapat sampai ke konsumen sekitar Rp. 14.000. Cabai dari Rp. 45.000 dapat menjadi Rp. 100.000.
Menurut kajian Agrinas Pangan, total inefisiensi logistik alias rente logistik berbagai komoditas pangan mencapai Rp. 202,6 triliun setiap tahun.
Koperasi Desa Merah Putih dirancang untuk memangkas mata rantai tersebut sehingga harga bagi masyarakat lebih rendah, sementara petani dan UMKM memperoleh harga jual yang lebih baik.
Namun ada satu hal yang menurut saya lebih menarik lagi dari efisiensi logistik skala kedua ini.
Selama ini, ketika kita masuk ke Indomaret, Alfamart, FamilyMart, Lawson, atau minimarket lainnya, produk yang kita lihat pada umumnya adalah produk-produk dari perusahaan-perusahaan besar.
Indomaret memang tidak dibangun untuk menjual kopi khas Wonokerto, tepung MOCAF Tamanmartani, atau beras Purwabakti.
Karena itu jarang kita menemukan beras khas dari sebuah desa, tepung singkong hasil koperasi lokal, kopi produksi satu kecamatan, atau makanan olahan khas daerah tersebut di Indomaret, Alfamart dan FamilyMart.
Di sinilah Koperasi Desa Merah Putih memiliki keunikan yang berbeda.
Kopdes bukan hanya menjadi tempat menjual produk nasional, tetapi juga menjadi etalase permanen bagi produk unggulan desa dan kabupaten setempat.
Misalkan, di Kopdes Purwabakti, Kecamatan Pamijahan, dijual beras Premium Istimewa Kopdes Merah Putih dengan identitas desa yang jelas pada kemasannya.
Di Kopdes Tamanmartani, Kalasan, DI Yogyakarta, saya menemukan tepung serbaguna MOCAF Merah Putih, tepung berbahan dasar singkong yang bebas gluten, lengkap dengan kemasan modern, logo halal, dan identitas produk lokal.
Di Kopdes Wonokerto, Sukorejo, Pasuruan, dipamerkan kopi, produk pertanian, serta berbagai hasil olahan lokal.
Di Kopdes Cipelang, Kecamatan Cijeruk, tersedia aneka makanan olahan, minyak, rempah, hingga produk UMKM yang berasal dari masyarakat sekitar.
Artinya, koperasi tidak hanya menjadi tempat masyarakat membeli kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi ruang bagi produk lokal untuk naik kelas.
Produk-produk UMKM desa setempat yang sebelumnya dipasarkan secara terbatas kini memperoleh rak permanen dengan identitas merek yang profesional dan menarik.
Pada titik inilah saya melihat kesamaan sekaligus perbedaan yang menarik. Indomaret mempunyai kekuatan pada jaringan distribusi dan kedekatannya dengan ekosistem Salim Group. FamilyMart mempunyai sinergi dengan ekosistem Wings Group.
Sementara Koperasi Desa Merah Putih membangun sinergi dengan berbagai BUMN sekaligus menjadi rumah bagi ribuan produk desa di seluruh Indonesia.
Ketiganya sama-sama mengandalkan standardisasi gerai, efisiensi logistik, jaringan distribusi, dan identitas merek yang kuat.
Namun masing-masing memiliki kekhususan yang berbeda. Indomaret menjadi jaringan ritel modern nasional. FamilyMart menggabungkan convenience store dengan produk dan makanan siap saji.
Sedangkan Koperasi Desa Merah Putih memadukan dua skala efisiensi logistik yang berbeda:
- Dari produsen besar milik Negara
- Dari UMKM milik warga Desa
Langsung ke ritel modern desa. Kombinasi inilah yang menarik. Barang-barang subsidi menghadirkan kepastian arus pelanggan setiap hari.
Setelah masyarakat datang, mereka sekaligus melihat dan membeli produk-produk UMKM desa yang selama ini sulit bahkan tidak mendapat ruang di pasar modern.
Selama puluhan tahun desa sering hanya menjadi tempat produksi, sementara sebagian besar nilai tambah dinikmati setelah barang keluar dari desa.
Gagasan besar Koperasi Desa Merah Putih adalah membalik logika tersebut: sebanyak mungkin nilai tambah - mulai dari distribusi, pengemasan, pembiayaan, hingga penjualan - tetap diciptakan dan dinikmati di desa itu sendiri.
Dirgayuza Setiawan
Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisis Kebijakan
Tonton juga video "Mendes Yandri: Hampir 1 Juta Perangkat Desa Sebut Dukung Penuh MBG hingga KMP"
(hns/hns)










































