Piala Dunia Sebentar Lagi Usai, Siapa yang Paling Cuan?

Piala Dunia Sebentar Lagi Usai, Siapa yang Paling Cuan?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 19 Jul 2026 16:30 WIB
Sejumlah pendukung Tim Nasional Argentina berkumpul sehari menjelang pertandingan babak final Piala Dunia 2026 di kawasan Times Square, New York, Amerika Serikat, Sabtu (18/7/2026) waktu setempat. Mereka akan mendukung kesebelasan Argentina yang bert
Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Jakarta -

Sudah sebulan lamanya Piala Dunia 2026 bergulir. Publik di seluruh dunia gegap gempita menikmati gelaran pertandingan sepak bola dari negara-negara yang berlaga.

Malam ini, gelaran itu akan mencapai puncaknya. Final Piala Dunia 2026 akan mempertemukan Argentina sang juara bertahan dengan Spanyol yang menjadi penantangnya.

Ketika para bintang sepak bola dunia menciptakan momen-momen bersejarah di atas lapangan, miliaran dolar juga berputar di luar lapangan. Namun, nyatanya tidak semua pihak meraup keuntungan besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, siapa yang paling cuan dari gelaran Piala Dunia tahun ini? Berikut ini ulasannya dikutip dari laporan BBC, Minggu (19/7/2026).

FIFA

ADVERTISEMENT

Federasi Sepak Bola Internasional (FΓ©dΓ©ration Internationale de Football Association/FIFA) menjadi pihak yang mendulang untung besar secara finansial dalam hajatan sepak bola dunia tahun ini.

Menurut Marion Laboure, ahli strategi senior di Deutsche Bank Research, FIFA sudah jelas merupakan pemenang utama dari Piala Dunia secara finansial, dengan pendapatan selama siklus empat tahunnya diperkirakan mendekati US$ 13 miliar atau sekitar Rp 232 triliun (kurs Rp 17.900). Pendapatan FIFA berasal dari penjualan hak siar, hak lisensi dan perhotelan, kesepakatan sponsor, serta penjualan tiket.

"FIFA juga memasuki pasar sekunder melalui platform penjualan kembali resmi mereka, dengan mengambil biaya sebesar 15% dari pembeli maupun penjual," tambah Laboure.

Bila melihat perkiraan uang yang didapatkan dari Piala Dunia 2022 yang digelar di Qatar di era pandemi COVID-19, FIFA mendulang keuntungan sampai US$ 7,6 miliar. Jumlah itu tentu akan makin besar di tengah perluasan turnamen menjadi 48 tim dan digelar tanpa pandemi pada 3 negara, Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat (AS).

Penyiar dan Sponsor

Meskipun perusahaan penyiaran harus mengeluarkan biaya sangat besar untuk menayangkan turnamen ini, tingginya jumlah penonton serta para sponsor yang ingin merek mereka tampil di layar, membuat perusahaan juga berpeluang meraup keuntungan besar dari penjualan slot iklan.

Tahun ini, FIFA memperkenalkan jeda hidrasi yang banyak diperbincangkan, sebuah langkah yang menurut organisasi tersebut murni merupakan urusan olahraga dan tidak memberikan pendapatan tambahan bagi badan sepak bola tersebut. Namun nyatanya, jeda selama tiga menit bagi para pemain untuk mengisi cairan tubuh telah menciptakan peluang komersial baru bagi perusahaan penyiaran dan sponsor.

Saluran televisi Fox Sports di AS membayar US$ 485 juta untuk hak siar di Amerika Serikat, memperkenalkan jeda tersebut dengan label dipersembahkan oleh sebuah merek.

Menurut para ahli, rata-rata slot iklan berdurasi 30 detik selama Piala Dunia di Fox bernilai antara US$ 200-300 ribu atau sekitar Rp 3,5-5,3 miliar. Angka tersebut bahkan mencapai US$ 750 ribu atau sekitar Rp 13,4 triliun selama pertandingan Amerika Serikat pada fase-fase akhir turnamen.

"Jeda hidrasi pada dasarnya merupakan inventaris iklan. Saya akan sangat terkejut jika itu dihapus. Format turnamen yang diperluas akan tetap dipertahankan karena skala kini menjadi model bisnis FIFA," kata Laboure.

Sponsor resmi Piala Dunia membayar biaya yang sangat besar untuk mengaitkan merek mereka dengan kompetisi tersebut, tetapi hampir dapat dipastikan mereka juga memperoleh keuntungan finansial, dengan merek-merek seperti Adidas dan Coca-Cola terlihat di berbagai tempat.

Penjual Merchandise

Para penjual merchandise juga ketiban durian runtuh. Antusiasme para penggemar telah mendorong penjualan jersey alias seragam tanding tim nasional di seluruh dunia. Nike dan Adidas melaporkan penjualan jersey tim nasional pada tahun ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan Piala Dunia 2022.

Jersey Inggris menjadi produk Nike terlaris, diikuti oleh Prancis, Brasil, Belanda, dan Amerika Serikat. Sementara bagi Adidas, jersey Meksiko menjadi yang paling laris.

JD Sports, yang menjadi salah satu lokapasar daring olahraga besar, mengatakan pihaknya mencatat rekor penjualan jersey Inggris tahun ini. Perusahaan juga menyebut bahwa Skotlandia memiliki jersey dengan penjualan terbaik secara keseluruhan. Penjualan jersey Jerman, Brasil, Meksiko, dan Argentina juga melonjak.

Fans Sepakbola

Fans sepak bola menjadi bagian penting dari Piala Dunia 2026. Tidak akan ada gegap gempita hajatan sepak bola tanpa mereka.

Alih-alih demikian, nyatanya para penonton sepak bola justru menjadi pihak yang merasakan rugi secara finansial. Masalah utamanya adalah harga tiket yang melambung. Apalagi FIFA lagi-lagi mengeluarkan kebijakan yang dinilai merugikan fans sepak bola, hal itu adalah penerapan harga tiket dinamis, tiket bisa makin melambung harganya ketika permintaan tinggi.

Tiket final di Stadion MetLife, New Jersey saja secara resmi ditawarkan seharga US$ 32.970 atau sekitar Rp 590 juta, sementara beberapa tiket di pasar penjualan kembali dipasarkan dengan harga lebih dari US$ 2 juta atau sekitar Rp 35,8 miliar. Presiden FIFA Gianni Infantino membela harga tiket tersebut dengan berargumen bahwa biayanya sejalan dengan berbagai ajang olahraga lain di Amerika Serikat.

Di luar biaya tiket, para penggemar juga terbebani oleh mahalnya biaya penerbangan, makanan, dan akomodasi. Salah satu contoh yang menjadi sorotan adalah kenaikan tarif kereta New Jersey Transit.

Perjalanan kereta selama 30 menit menuju Stadion MetLife naik menjadi US$ 150 selama turnamen, dari tarif normal pulang-pergi yang tadinya cuma sebesar US$ 12,90 saja. Gelombang protes membuat harga akhirnya diturunkan, tetapi tetap lebih mahal dibandingkan tarif normal.

Kota Tuan Rumah

Sebanyak 16 kota menjadi tuan rumah Piala Dunia di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Mereka menyambut kedatangan banyak penggemar dan wisatawan yang meningkatkan aktivitas sektor perhotelan, hotel, serta bisnis lokal. Nyatanya manfaat hajatan sepak bola bagi ekonomi lokal dinilai sangat terbatas.

FIFA memperkirakan sekitar US$ 41 miliar akan masuk sebagai nilai tambah dalam perekonomian global, dengan US$ 17 miliar di antaranya diprediksi meningkatkan ekonomi AS serta menciptakan sekitar 185.000 lapangan kerja.

Namun, dalam pandangan Alexander Budzier, peneliti praktik manajemen di Universitas Oxford, manfaat ekonomi jangka panjang dari penyelenggaraan ajang olah raga sebesar Piala Dunia pada kenyataannya tidak pernah benar-benar terwujud.

Menurutnya, kota-kota tuan rumah justru biasanya mengalami penurunan jumlah pengunjung yang cukup besar karena banyak orang memilih menghindari kekacauan selama turnamen berlangsung. Meskipun mungkin terjadi peningkatan perekrutan tenaga kerja, ia berpendapat pekerjaan yang tersedia umumnya hanya merupakan pekerjaan bergaji rendah di sektor perhotelan.

"Ajang ini menciptakan lapangan kerja, tetapi tidak menciptakan kekayaan," ujar Budzier.

Data resmi menunjukkan perekrutan di pub, bar, dan restoran di Amerika Serikat meningkat menjelang turnamen pada bulan Mei, tetapi lonjakan tersebut hanya berlangsung singkat.

Menurutnya, sebagian besar pertandingan Piala Dunia kali ini menggunakan stadion, hotel, kompleks latihan, dan infrastruktur transportasi yang sudah ada, sehingga tidak akan ada manfaat ekonomi dari sisi pembangunan.

Hotel dan Akomodasi

Hotel dan akomodasi menjadi sektor yang diramal paling untung karena gelaran Piala Dunia 2026. Tapi kenyataannya, permintaan kamar hotel yang diperkirakan tinggi malah tidak terwujud.

Bagi para pelaku industri hotel di Amerika Serikat, antusiasme menjelang turnamen juga tidak membuahkan hasil yang diharapkan. American Hotel and Lodging Association (AHLA) menuduh FIFA memesan terlalu banyak kamar hotel untuk kebutuhannya sendiri sehingga menciptakan permintaan yang semu. FIFA mengatakan pihaknya tidak mengakui tuduhan tersebut.

Laboure dari Deutsche Bank Research mengatakan bahwa hal serupa juga terjadi di Prancis pada tahun 1998 ketika permintaan tidak memenuhi ekspektasi.

"Pada bulan April, 80% operator hotel di Amerika Serikat mengatakan bahwa tingkat pemesanan masih berada di bawah proyeksi awal mereka. Dua pertiga pengelola hotel di New York melaporkan pemesanan yang lebih lemah dari perkiraan, dan di Seattle hampir 80% mengalami hal yang sama," papar Laboure.

"Banyak di antara mereka (pengusaha hotel), menyebut turnamen ini sebagai peristiwa yang tidak berdampak," tambahnya.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads