Kenaikan harga ini lebih kecil dibanding kenaikan biaya produksi yang mencapai 5 persen akibat kenaikan harga BBM industri. Pasalnya daya beli masyarakat masih lemah sehingga produsen tidak berani menaikan harga terlalu tinggi.
"Pasti ada kenaikan harga, kalau harga minyak permanen di 100 dolar per barel, mau enggak mau costnya naik. Tapi masalah kenaikan harga komponen ini dibebankan ke pasar atau enggak itu ada berbagai konsiderasi. Kenaikan cost 5% tapi tidak mutlak harga di pasar bakal naik 5% karena kan sekarang konsepnya market oriented," Ungkap Presdir Toyota Astra Motor, Johnny Darmawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Johnny menambahkan untuk produk Toyota dari dulu kalau kenaikan 5 persen harga yang dibebankan ke pasar antara 2-3% persen. Karena ada faktor internal, efisiensi, produktifitas, outsourcing dll. Namun biasanya untuk stok lama yang saat produksinya belum terkena imbas kenaikan harga minyak masih menggunakan harga lama.
"Tapi kalau ini terus berkesinambungan, harga cost naik, material naik, inflasi juga. Suka enggak suka harus dibebankan ke customer, tapi menurut saya tidak semua akan kita akan bebankan," ujar Johny.
"Pokoknya begitu dirasa industri otomotif tidak mampu lagi bertahan, kita akan adjust langsung ke harga jual ke konsumen," ujar Presdir Indomobil Gunadi Shinduwinata di tempat yang sama.
Gunadi menambahkan kenaikan harga komponen otomotif memang belum terlalu signifikan naik, karena pergerakan minyak masih akan terjadi dan belum sampai pada harga stabil. Namun saat ini mulai ada pergeseran kenaikan harga komponen otomotif 2,5 persen.
Menurutnya dengan kenaikan harga minyak dunia yang terjadi sejak bulan September, produsen otomotif masih bertahan dengan harga yang lama dengan cara menekan efisiensi produksi sehingga margin yang tergerus tidak besar. Tapi jika produsen tak sanggup lagi menahan kenaikan biaya produksi kenaikan harga jual menjadi tak terelakan.
(arn/ir)











































