Harga Minyak US$ 100, Defisit APBN 2008 Naik Jadi 1,8%

Harga Minyak US$ 100, Defisit APBN 2008 Naik Jadi 1,8%

- detikFinance
Selasa, 27 Nov 2007 18:58 WIB
Jakarta - Pemerintah sudah menyiapkan skenario terburuk untuk APBN 2008 jika harga minyak dunia tembus US$ 100 per barel. Defisit APBN bisa naik dari semula 1,7% menjadi 1,8%.

"Kalau harga minyak seperti ini terus, pemerintah terus lakukan pengamatan dan penghitungan risiko APBN," kata Menkeu Sri Mulyani di Kantor Presiden usai sidang kabinet, Selasa (27/11/2007).

Menkeu menjelaskan, jika harga minyak dunia bertahan US$ 100 per barel sepanjang tahun, maka APBN diperkirakan berubah sangat besar baik di sisi penerimaan maupun pengeluaran terutama yang terkait harga minyak, seperti subsidi BBM, listrik dsb.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pendapatan negara juga naik Rp 124,7 triliun. Belanja membengkak menjadi Rp 179,4 triliun kalau gak ada upaya penghematan," katanya.

Tapi beberapa langkah antisipasi yang disiapkan bisa menghemat Rp 54,7 triliun. Sehingga defisit 2008 bisa mencapai Rp 75,9 triliun dari anggaran semula Rp 73,3 triliun atau besarnya 1,8% di atas PDB.

"Penerimaan negara akan menjadi Rp 937 triliun. Belanja negara Rp 1.006 triliun
dari semula Rp 804,7 triliun," tutur Menkeu.

Sebelumnya pemerintah menargetkan defisit APBN 2008 yang sudah disetujui DPR sebesar 1,7 persen dari PDB atau senilai Rp 73,1 triliun.

Sementara Ketua Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu mengatakan skenario terburuk harga minyak US$ 100 per barel dan pemerintah tidak berbuat apa-apa maka defisit APBN 2008 bisa membengkak menjadi 2,9%-3%.

"Itu kalau kita tidak melakukan apa-apa tapi kan pemerintah punya 9 langkah pengamanan untuk defisit dan menjaga pertumbuhan. Pengamanan itu bisa membuat defisit APBN 2008 menjadi 1,8%," kata Anggito. (ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads