Ekonomi RI 2008, Optimistis atau Pesimistis?

Ekonomi RI 2008, Optimistis atau Pesimistis?

- detikFinance
Rabu, 28 Nov 2007 08:32 WIB
Jakarta - Kondisi perekonomian dunia saat ini memberi pengaruh sangat besar dalam memperkirakan outlook ekonomi di tahun 2008, termasuk Indonesia. Berbagai pandangan pun masih terbelah,  tetap optimistis atau pesimistis?

Demikian 2 pertanyaan yang masih tersisa dalam acara bertajuk "Economic Outlook; Prospects of 2008: Are We Confidence?" yang diadakan di hotel Four Season, Jakarta, Selasa (27/11/2007) malam.

Penasihat ekonomi kepresidenan, Syahrir, mengatakan bahwa PDB aktual RI jauh dibawah perkiraan PDB (tanpa krisis).

"Sejak krisis pada 1997, PDB aktual kita jauh dibawah perkiraan PDB jika tidak terjadi krisis." kata Syahrir.

Hal tersebut membawa dampak yang cukup signifikan. Hubungan antara tingkat kemiskinan terhadap tingkat pengangguran tidak bergerak linier. Sementara tingkat kemiskinan terus menurun sejak 1998, tingkat pengangguran malah
meningkat.

"Hubungan peningkatan cadangan devisa terhadap laju pertumbuhan juga bergerak tidak linier. Ditambah fluktuasi laju inflasi yang tidak biasa. Inflasi di Indonesia itu terkadang naik sampai dobel digit, terkadang stabil 1 digit," kata Syahrir.

Kondisi tersebut membuat ia cenderung pesimis terhadap kemungkinan terjadinya perbaikan kondisi ekonomi Indonesia dalam waktu cepat.

Sementara itu, pengamat ekonomi UI, Faisal Basri memberikan pandangan yang cukup optimistis terhadap outlook ekonomi RI ke depan.

"Sejak Oktober 2006, inflasi telah kembali pada titik 1 digit, yaitu di 5,27%. Walaupun saat ini masih bergerak naik tipis, tapi tren ke depan masih positif," kata Faisal.

Sejak 2004, ia melanjutkan, inflasi dunia terutama di negara-negara maju cenderung meningkat, apalagi pasca kenaikan harga minyak. AS mengalami ancaman peningkatan inflasi.

"Hingga 2010, laju inflasi di negara-negara maju akan cenderung bergerak stabil di titik 2%. Sedangkan di negara2 berkembang akan cenderung mendekati level di negara-negara maju," kata Faisal.

Ia juga optimis pergerakan rupiah akan stabil di kisaran Rp 9.300-9.400 per dolar AS.

"Walaupun tetap tinggi, namun proyeksi ke depan rupiah akan stabil. Pada tutup tahun akan berada pada kisaran Rp 9.350, sedangkan pada 2008 akan berkisar di titik Rp 9.380," kata Faisal.

Tingkat ekspor-impor juga terus meningkat. Sejak 2002 masih pada kisaran US$ 3-4 Miliar, hingga 2007 sudah tumbuh pada kisaran US$ 7-9 Miliar

Akan tetapi, global imbalances terutama di AS, Eropa, dan Jepang, membuat Indonesia harus mencari pasar ekspor yang lain.

"Tapi akan cukup sulit, karena sekitar 83,4% ekspor RI head to head dengan produk China, terutama di bidang manufaktur. Jadi ini salah satu masalah yang harus dihadapi. Tapi ke depan Indonesia masih memiliki sentimen positif," imbuh Faisal.



(dro/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads