Presiden Prabowo Subianto menyoroti angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang menurutnya masih tinggi, yakni sekitar 6,5. Ia menilai angka tersebut mencerminkan ekonomi nasional yang belum efisien.
"Semua pakar mengatakan, kalau bicara ekonomi Indonesia mereka mengatakan bahwa Indonesia ekonominya tidak efisien. Apa arti tidak efisien? Artinya banyak kekayaan bocor," kata Prabowo dalam dalam acara Harlah ke-28 PKB yang disiarkan secara online, Kamis (23/7/2026).
"Mereka hitung bahwa angka kita, ekonomi kita ya, ICOR kita 6,5. ICOR artinya, bahasa sono-nya adalah Incremental Capital Output Ratio. Artinya kalau kita mau tambah kaya satu dolar atau satu rupiah, untuk dapat satu rupiah kita harus keluarkan enam setengah rupiah. Untuk dapat satu dolar, kita harus keluarkan enam setengah dolar," sambung Prabowo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Prabowo mengatakan kondisi ini sedikit berbeda dengan negara-negara tetangga Indonesia yang perekonominya dinilai lebih efektif. Terlihat dari skor ICOR mereka yang berada di kisaran level 3 atau 4.
"Kalau negara lain mereka bisa dapat satu dolar, mereka hanya keluarkan empat dolar. Selisih dua dolar sama berapa negara tetangga kita. Dua per enam, sepertiga, ini artinya 30% kekayaan kita bocor," jelasnya.
Dalam konteks ini, Prabowo menuding 'akal-akalan' atau inefisiensi birokrasi hingga praktik menaikkan harga barang/jasa yang dibeli berbagai Kementerian/Lembaga sebagai biang kerok utamanya. Hal inilah yang menurutnya sedang diperbaiki pemerintah.
"Anggaran negara adalah US$ 270 miliar, Rp 3.700 triliun kurang lebih. Jadi kalau 30% bocor, artinya ya lebih Rp 1.000 triliun bocor. Ini sedang saya hentikan, saya mau tutup ini akal-akalan dari banyak pihak. Ya, kita harus introspeksi," terang Prabowo.
"Semua sudah tahu apa yang terjadi. Iya kan? Benar kan? Setiap pembelian dari lembaga pemerintah selama ini pasti harganya digelembungkan. Benar? Benar? Ibu-ibu tahu, apa saja, kadang-kadang digelembungkannya gila-gilaan. Ini sedang kita hentikan," sambung Prabowo.
Atas dasar inilah sejak ia menjabat sebagai orang nomor satu di Indonesia, pemerintah langsung melakukan efisiensi anggaran besar-besaran. Di mana dana hasil efisiensi ini banyak digunakan untuk belanja program yang dinilai lebih berdampak seperti makan bergizi gratis (MBG) hingga pembangunan jembatan.
"Dari beberapa bulan pertama pemerintah yang saya pimpin, kita bisa menghemat lebih dari tiga ratus triliun. Ini yang kita gunakan untuk makan bergizi. Ini yang kita gunakan untuk jembatan tadi yang disebut, 5.000 jembatan kita bangun sampai Desember 2026. Kalau perlu tahun depan kita bangun lebih. Rakyat di desa tidak bisa nunggu, mereka tidak mau nunggu lagi," tegas Prabowo
(hns/hns)









































