Hal tersebut disampaikan Direktur Keuangan PLN Parno Isworo dalam jumpa pers di Gedung Lokasawala, Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (28/11/2007).
Tiga bank lokal yaitu BCA, BNI dan Bank Mandiri ditunjuk secara terpisah sebagai pemimpin untuk mempersiapkan porsi pinjaman dalam mata uang rupiah masing-masing untuk proyek di Labuan 2x315 MW, Indramayu 3x330 MW dan Rembang 2x315 MW.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penunjukkan coordinating arrangers untuk porsi pinjaman dolar AS di proyek Labuan akan dilakukan minggu depan," ujarnya.
Kontrak EPC (engineering, procurement, and construction) ketiga proyek tersebut terdiri atas komponen mata uang rupiah itu untuk membiayai pekerjaan sipil sementara dolar AS untuk membiayai impor alat-alat.
Total kebutuhan pinjaman rupiah untuk ketiga proyek tersebut adalah Rp 4,4 triliun, sementara pinjaman dolar AS adalah US$ 1,1 miliar.
"PLN akan menjadi debitor langsung dalam perjanjian kredit ini, dimana Depkeu memberi jaminan penuh pemerintah untuk mendukung kewajiban PLN dalam pinjaman ini," ujarnya.
Jangka waktu dari pinjaman mencapai 10 tahun untuk pinjaman dalam bentuk rupiah dan 12 tahun atau lebih untuk pinjaman dalam bentuk dolar AS.
"Pendanaan ini merupakan pertama kalinya PLN mendapatkan pendanaan eksternal sebagai peminjam langsung, kan sebelumnya pemerintah yang minjam dan diteruskan ke kita, jadi itu two step loan," ujarnya.
Ketiga proyek pembangkit listrik adalah bagian dari 5 kontrak EPC yang ditandatangani pada Maret tahun ini.
3 kontrak EPC ini akan menambah kapasitas pembangkit listrik sebanyak 2.250 MW. Pembangkit listrik ini akan mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar minyak.
Pembiayaan 2 kontrak di Suralaya 1x625 MW, dan Paiton 1x660 MW saat ini sedang dalam proses negosiasi dengan China Exim Bank. (ddn/qom)











































