Harga Minyak dan BI Rate Tantangan Industri Motor 2008

Harga Minyak dan BI Rate Tantangan Industri Motor 2008

- detikFinance
Jumat, 30 Nov 2007 13:42 WIB
Jakarta - Fluktuasi harga minyak dunia, yang berdampak pada kemungkinan terjadinya perubahan tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI Rate), akan menjadi tantangan industri motor di 2008.

Harga minyak yang tinggi, bisa menimbulkan dua kemungkinan, yaitu mendorong pertumbuhan penjualan motor, atau malah menekan angka penjualan motor. Sedangkan kemungkinan naiknya BI Rate pada titik 8,5% tahun depan akan menekan demand sepeda motor.

Dalam konferensi pers di pabrik AHM, Cikarang, Jumat (30/11/2007), Presiden Direktur AHM, Miki Yamamoto mengatakan optimistis angka penjualan motor akan naik seiring naiknya harga minyak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita bisa ambil contoh Amerika. Saat harga minyak naik, angka penjualan motor pun naik. Hal itu didorong oleh adanya kebutuhan alat transportasi yang murah sebagai pengganti mobil dan ongkos bus yang tinggi. Apalagi di Indonesia, dimana motor digunakan untuk keperluan sehari-hari, kenaikan harga minyak akan mendorong angka penjualan motor," jelas Miki.

Berkebalikan dengan itu, Marketing Director AHM, Johannes Loman, mengatakan bahwa kenaikan harga minyak akan menekan angka penjualan motor.

"Harga minyak tinggi akan menekan daya beli masyarakat, sehingga akan dapat menurunkan demand sepeda motor, karena masyarakat akan lebih mementingkan yang primer dulu," kata Loman.

Sementara berkaitan dengan rencana pemerintah menaikkan BI Rate pada titik 8,5%, Loman mengatakan hal tersebut juga akan menekan angka penjualan motor.

"Kenaikan BI Rate akan mendorong kenaikan suku bunga kredit. Sedangkan sekitar 70-80% penjualan motor itu kan melalui kredit. Jadi saya kira tahun depan angka penjualan motor akan turun," kata Loman.

(dro/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads