Pelemahan Rupiah Positif untuk Penerimaan PPh Migas

Pelemahan Rupiah Positif untuk Penerimaan PPh Migas

- detikFinance
Jumat, 30 Nov 2007 14:04 WIB
Jakarta - Pelemahan kurs mata uang rupiah terhadap dolar AS berdampak positif bagi penerimaan pajak penghasilan (PPh) Migas.

Hal ini disampaikan oleh Dirjen Pajak Damrin Nasution usai acara penanaman pohon di Kantor Pusat DJP, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (30/11/2007).

"Kalau PPh migas kalau rupiah melemah baik-baik saja, karena dengan US$ 100 juta yang sama rupiahnya lebih banyak, bayangkan kalau Rp 9.000 dibanding Rp 9.400 kalau kursnya Rp 9.400 ya rupiahnya lebih banyak," tuturnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk PPh yang lainnya, Darmin mengatakan bahwa pihaknya masih sulit memprediksinya. Namun secara umum untuk ekspor pelemahan rupiah memberikan insentif bagi industri.

"Cuma ekspor itu kita PPh-nya kena restitusi banyak itu selalu, jadi PPh-nya mungkin membaik tapi di PPn-nya restitusinya banyak," jelasnya.

Untuk penerimaan PPN, Darmin mengatakan bahwa pelemahan rupiah juga berpengaruh besar terhadap penerimaan PPN.

"Di dalam penerimaan kita PPN itu, dia kan nomor dua, setelah PPh maka PPN, jadi pengaruhnya ya besar. Tapi saya belum bisa sampaikan angka persisnya seberapa besar, bahwa itu ada excersise-nya, tapi waktunya belum tepat untuk menceritakan itu,” jelasnya.

Darmin mengatakan meskipun pelemahan rupiah diprediksikan banyak pihak akan terus berlanjut sampai akhir tahun ini, namun bagi penerimaan PPh dampaknya belum akan terlalu signifikan di 2007.

"2008 baru banyak, di 2008 tidak bisa lagi hanya bicara PPh migas sama subsidi, sudah harus bicara dampak putaran kedua terhadap seluruh kegiatan ekonomi," ujarnya.

Jadi dikatakan Darmin bahwa di 2008 peningkatan penerimaan pajak itu dipengaruhi oleh dua unsur.

"Unsur pertama karena UU PPh tidak jadi, tarifnya tidak jadi turun jadi balik lagi dia, yang tadinya kita sudah potong karena itu, sekarang dia balik lagi. Itu besarannya sekitar Rp 9 triliun," jelasnya.

Sementara unsur keduanya adalah dengan upaya-upaya untuk meningkatkan penerimaan dari berbagai sektor yang saat ini sedang dilakukan, seperti pada sektor industri sawit, batubara serta jasa konstruksi. (dnl/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads