Demikian seperti dilaporkan Bank Dunia dalam 'Remittance Trends 2007'. Namun angka US$ 240 miliar itu masih bisa membesar, potensi sebenarnya bisa mencapai 2 kali lipatnya.
"Remitansi yang tercatat mendekati dua pertiga dari aliran dana asing (foreign direct investment) yang diterima negara berkembang," ujar Ekonomi Senior Bank Dunia Dilip Ratha seperti dikutip situs resmi bank pembangunan itu, Minggu (2/12/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Industri remitansi mengalami perubahan struktural berkat teknologi telepon genggam dan penggunaan internet dalam pengiriman uang.
Namun perubahan ini mengalami sedikit kendala karena minimnya kejelasan dalam beberapa aturan termasuk yang berkaitan dengan pencucian uang dan kejahatan finansial lainnya.
Menurut para analis, aliran remitansi di Meksiko hampir stagnan, sementara di negara-negara Amerika Latin lainnya bahkan mengalami penurunan.
Meskipun demikian, pertumbuhan industri remitansi di negara berkembang tetap tinggi.
Di Indonesia sendiri, remitansi biasanya berasal dari para tenaga kerja asing yang mengirimkan uang hasil pekerjaannya di negara asing ke Indonesia.
Industri pengiriman uang ini marak muncul karena adanya kebutuhan transfer dana yang lebih cepat, prosedur mudah serta biaya yang murah.
(ddn/ddn)











































