Industri CPO di Asia Masih Seksi

Industri CPO di Asia Masih Seksi

- detikFinance
Senin, 03 Des 2007 11:42 WIB
Jakarta - Industri kelapa sawit masih seksi. Lembaga pemeringkat rating Moody’s Investors Service mempertahankan outlook peringkat stabil bagi industri minyak kelapa sawit di Asia.

Karena harga CPO terus naik dan permintaan tetap tinggi, industri CPO akan tetap menguntungkan pada tahun mendatang.

Demikian laporan Moody's, Industry Snapshot: Asian Palm Oil Producers, yang ditulis oleh Wakil Presiden Moody’s Peter Choy, analis dari Hong Kong Wonnie Chu, analis dari Jakarta Joko Widodo seperti dikutip detikFinance, Senin (3/12/2007).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Risiko ekspansi merupakan tantangan utama bagi perusahaan minyak kelapa sawit karena produsen hulu menyalurkan arus kas lebih besar untuk ekspansi perkebunannya dan memulai proyek biodiesel. Hal ini akan membawa risiko eksekusi yang signifikan, dan juga membatasi free cash flow bahkan pada saat operating cash flow tinggi," ujar Choy.

Wonnie menambahkan sifat dasar komoditi bisnis minyak kelapa sawit telah dikenali dengan adanya volatilitas harga, yang dapat mengakibatkan ketidakstabilan marjin keuntungan dan arus kas sepanjang waktu.

"Tetapi para produsen yang terintegrasi dari hulu hingga proses operasi palm oil telah terbantu dalam memelihara bisnis dan arus kas selama periode volatilitas harga," ujarnya.

Kondisi pasar untuk minyak kelapa sawit diyakini tetap kuat, dan harga CPO telah naik dua kali lipat sejak semester kedua 2006.

Sejumlah faktor akan memberikan dukungan terus pada harga, yaitu kenaikan konsumsi di pasar berkembang, pilihan konsumen akan kesadaran kesehatan pada minyak nabati, dan permintaan minyak kelapa sawit mentah sebagai sumber bio-fuel.

Sementara itu Joko menekankan bahwa beberapa negara di Asia sejak dahulu telah mengenakan tarif tinggi untuk minyak kelapa sawit dan produk yang berhubungan dengannya sebagai bagian dari usaha untuk menggiatkan produksi hilir domestik.

"Oleh karenanya, perubahan pada tarif atau aturan perdagangan global juga dapat mengekspos perusahaan minyak kelapa sawit kepada volatilitas marjin selain dari volatilitas harga," ujarnya.
(ddn/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads