Demikian disampaikan Presiden Komisaris PT Panasonic Gobel Battery Indonesia (PGBI) Rachmat Gobal dalam peresmian pabrik barunya di kawasan Industri, Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, Senin (3/12/2007).
"Pemerintah perlu mendorong semangat para pelaku industri untuk terus melakukan inovasi teknologi, sehingga produk elektronika yang dihasilkan bisa mengikuti trend dunia. Bukan sebaliknya tetap membiarkan para pelaku membuat produk di tingkat produksi teknologi yang rendah mengingat tidak adanya insentif atau ruang bagi pelaku ke wilayah tersebut," kata Rachmat.
Menurutnya, jika hal itu terus terjadi maka beberapa industri yang tidak lagi sesuai dengan tren dunia pasti akan ditinggalkan. Alasannya, kata Rachmat, bukan semata-mata karena tidak kompetitif, tetapi lebih karena memang pasar tidak lagi menghendaki.
Rachmat memberi contoh sejumlah industri yang sudah berhenti seperti PT PEDIDA, pabrik komponen audio visual speaker di Cibitung dan PT MTPDI, pabrik tabung televisi di Cikarang.
"Pabrik ini berhenti karena teknologinya sudah tidak memadai. Tren permintaan bergeser dari televisi konvensional analig atau tabung ke plasma, LCD dan digital," jelas Rachmat.
Ia menjelaskan, banyak pelaku industri akhirnya menghentikan produksinya semata-mata karena teknologinya yang sudah tidak memadai, dan bukan karena keterbatasan modal. Menurut Rachmat, peluang itu bisa terjadi pada pelaku industri elektronika lain di Indonesia.
"Produsen tidak mustahil akan menutup pabriknya, jika teknologi sudah tidak memadai, tidak sesuai dengan tren pasar dan wilayah konsumennya terbatas. Namun yang lebih penting lagi, pasar domestik tak lagi kondusif karena banyak dimasuki produk impor dengan harga yang tidak rasional," jelasnya.
Untuk itu, Rachmat memberi tiga usulan kepada pemerintah agar merancang strategi yang fokus pada sektor industri elektronika.
Pertama, dukungan dari sektor fiskal seperti insentif perpajakan dan juga penghapusan PPnBM.
Kedua, membangun dan menerapkan standar industri dan keamanan produk melalui percepatan penerapan SNI produk elektronika dengan mengadopsi standar global.
Ketiga, menyiapkan tenaga kerja siap pakai dan program alih teknologi.
"Dengan demikian produk yang dihasilkan tidak hanya sekedar dari merek-merek tertentu, tetapi juga pelaku industri dunia lainnya menjadi lebih tertarik masuk ke Indonesia untuk menghasilkan produk massal mereka dan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi dan ekspor.
Menurut Rachmat, apabila kebijakan strategis itu tidak disiapkan, maka peluang emas akan hilang. Apalagi dengna adanya rencana integrasi pasar ASEAN, dimana seluruh anggotanya bisa masuk ke pasar negara lain dengan bea masuk yang sangat rendah.Β Ia menyebut Malaysia, Singapura dan Thailand sebagai saingan yang kuat, jika mengacu pada integrasi tersebut.
"Apalagi jika diantara negara itu memiliki koneksi bisnis dengan China yang notabene selama ini dikenal kuat bermain di industri elektronika di seluruh level, dalam arti low tech hingga high tech masuk ke pasar tersebut," pungkasnya.
(qom/ir)











































