Punya 1,8 Miliar Penduduk, India Incar Mete hingga Pinang dari RI

Punya 1,8 Miliar Penduduk, India Incar Mete hingga Pinang dari RI

Heri Purnomo - detikFinance
Senin, 10 Agu 2026 13:20 WIB
Pengepul kacang mete beraktifitas di Langara, Wawonii, Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara.
Foto: Rafida Fauzia
Jakarta -

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengungkapkan bahwa India telah meminta Indonesia untuk memperbesar ekspor sejumlah produk agro, mulai dari kacang mete, gambir, hingga pinang. Ia mengatakan permintaan tersebut menjadi salah satu peluang yang ingin dimanfaatkan Indonesia melalui keanggotaan di BRICS.

Pasalnya, kata Faisol, negara-negara BRICS merupakan pasar potensial bagi produk Indonesia untuk diekspor. Sejumlah negara anggota BRICS juga tercatat banyak mengimpor crude palm oil (CPO) dari Indonesia.

"Kita tahu India misalnya hari ini 1,8 miliar penduduk, membutuhkan banyak sekali produk agro. Mereka sudah meminta kita untuk memperbesar ekspor kacang mete, memperbesar juga ekspor gambir, pinang dan produk-produk hulu agro," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (10/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faisol menambahkan, pemerintah Indonesia juga telah menawarkan berbagai produk olahan berbasis agro ke India. Tawaran itu, kata Faisol, mendapat respons positif.

Hanya saja, kata Faisol, dalam perdagangan ini India meminta Indonesia melakukan relaksasi terhadap sejumlah aturan perdagangan yang intinya produk India juga bisa diterima di Indonesia. Permintaan itu berkaitan dengan posisi neraca perdagangan Indonesia yang saat ini surplus terhadap India.

ADVERTISEMENT

"Mereka ingin agar ada balance sehingga mereka ingin ekspor mereka ke India juga meningkat. Tapi jangan terlalu pesimis karena kalau melihat pasar India itu enam kali lipat daripada pasar dalam negeri kita. Sejauh resiprokal diterapkan saya kira akan menguntungkan buat produk-produk Indonesia ke India," ujarnya.

"Ini sebagai salah satu contoh bagaimana BRICS juga bisa menjadi ruang bagi produk kita ke negara-negara anggota BRICS yang selama ini mungkin masih belum terlalu besar," sambungnya.

(fdl/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads