Utang AS Tembus Rp 714 Kuadriliun, Harus Bayar Bunga Rp 56 T Tiap Hari

Utang AS Tembus Rp 714 Kuadriliun, Harus Bayar Bunga Rp 56 T Tiap Hari

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 12 Agu 2026 11:11 WIB
Ini Dedengkot yang Bikin Rupiah Melemah atas Dolar AS
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Untang pemerintah Amerika Serikat (AS) kini sudah hampir menyentuh angka US$ 40 triliun atau Rp 714.680 triliun (asumsi kurs Rp 17.867/dolar AS). Dengan beban utang sebesar ini, pemerintah AS harus membayar bunga hingga puluhan triliun setiap harinya.

Dalam pembaruan anggaran Agustus 2026, Kantor Anggaran Kongres (Congressional Budget Office/CBO) melaporkan pembayaran bunga bersih atas utang publik Paman Sam tercatat mencapai US$ 963 miliar atau Rp 17.205,92 triliun sepanjang Oktober 2025 hingga Juli 2026.

Jumlah tersebut setara dengan US$ 96,3 miliar atau Rp 1.720,59 triliun per bulan, atau sekitar US$ 3,18 miliar atau Rp 56,81 triliun per hari. Menjadi beban yang sangat besar bagi Kementerian Keuangan AS hanya untuk pembayaran bunga utang saja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara keseluruhan, pembayaran bunga utang tersebut meningkat sekitar 14% dibandingkan atau US$ 117 miliar (Rp 2.090,43 triliun) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Utang tersebut lebih besar daripada dalam 10 bulan pertama tahun fiskal 2025 dan karena suku bunga jangka panjang yang lebih tinggi," jelas CBO dalam laporannya seperti dikutip dari Fortune, Rabu (12/8/2026).

ADVERTISEMENT

"Penurunan suku bunga jangka pendek sebagian mengurangi kenaikan keseluruhan pembayaran bunga," tambah CBO yang kini dipimpin oleh direktur Phil Swagel.

Pembaruan data anggaran AS terbaru ini semakin menunjukkan bagaimana para pembuat kebijakan di pemerintah Presiden Donald Trump sedang menuju ke arah yang salah dalam hal tanggung jawab fiskal.

Sebab besarnya pembayaran bunga utang ini terjadi ketika defisit anggaran AS juga terus meningkat. Di mana dalam 10 bulan pertama tahun fiskal 2026, defisit anggaran AS mencapai US$ 1,8 triliun (Rp 32.160,6 triliun), atau naik US$ 169 miliar (Rp 3.019 triliun) dibandingkan periode yang sama pada tahun fiskal sebelumnya.

Dengan mempertimbangkan besaran utang itu juga, CBO memperbarui proyeksi defisit AS secara keseluruhan untuk tahun fiskal 2026 menjadi US$ 2,1 triliun atau Rp 37.520 triliun. Proyeksi tersebut US$ 200 miliar atau Rp 3.573,4 triliun lebih tinggi jika dibandingkan perkiraan yang dibuat pada Februari 2026.

Sebenarnya, besarnya utang pemerintah tak selalu menjadi persoalan bagi ekonom AS. Sebab surat utang AS atau Treasury merupakan fondasi pasar keuangan yang dianggap sebagai salah satu kelas aset paling aman di dunia.

Namun yang menjadi persoalan, kenaikan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi perhatian. Berdasarkan data Federal Reserve Bank of St. Louis, rasio utang AS terhadap PDB saat ini mencapai 122%.

Kekhawatirannya, pemberi pinjaman dapat meminta premi risiko yang lebih tinggi ketika memberikan pinjaman kepada pemerintah AS. Kondisi tersebut berpotensi semakin meningkatkan biaya bunga utang.

(igo/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads