"Kita tekankan industri dalam negeri mampu. Dari quantity, kualitas maupun distribusi," kata Ketua Aperlindo John Manoppo saat dihubungi detikFinance, Rabu (5/12/2007).
Dalam rapat sebelumnya, diputuskan PLN akan membagi-bagikan lampu hemat energi ke pelanggannya. Langkah itu ditempuh untuk mengurangi konsumsi listrik sehingga bisa mengurangi pula jumlah subsidi listrik ke PLN. Total kebutuhan lampu hemat energi mencapai 50 juta, dengan dana yang dibutuhkan sekitar Rp 1 triliun.
Menurut John, jumlah lampu yang dibutuhkan sebanyak 50 juta lampu itu sangat bisa dipenuhi industri dalam negeri. Karena seluruh anggota Aperlindo, produksinya mencapai 135 juta per tahun.
"Kalau hanya 50-60 juta kita mampu, karena produksi kita lebih dari 130 juta," tambah John.
Ia mengungkapkan, pada tanggal 19 November telah ada pertemuan antara produsen lampu dalam negeri, Menperin dan PLN. Waktu itu, Aperlindo mempresentasikan bagaimana industri dalam negeri dapat menunjang program PLN.
Dan PLN pun sudah berjanji akan memprioritaskan produsen dalam negeri dan akan segera mentenderkannya.
"Tapi saya dapat bocoran, katanya PLN masih meragukan kualitas produksi dalam negeri. Saya tantang PLN, kualitas apa yang mereka minta. Masak produksi dalam negeri tidak mampu," tegasnya.
Dari segi harga pun, menurut John, bisa dengan mudah dipenuhi. Harga lampu hemat energi Rp 15.000, adalah harga umum baik untuk dalam maupun luar negeri.
Rencananya, pekan depan John akan bertemu dengan Dirut PLN Eddie Widiono. Ia akan mengkonfirmasi langsung perihal niatan impor lampu hemat energi itu.
"Kita sedang mengejar ketertinggalan industri, Kalau diambil dari impor, yang pasarnya industri lokal tergerus," pungkasnya.
(qom/ir)











































