Pertamina Mulai Produksi BBM Pengalihan Pekan Depan

Pertamina Mulai Produksi BBM Pengalihan Pekan Depan

- detikFinance
Kamis, 06 Des 2007 17:56 WIB
Jakarta - Pertamina akan mulai memproduksi secara bertahap BBM pengalihan RON 90 sebesar 20 ribu kiloliter di kilang Plaju, Sumatera Selatan pada pekan depan.

Kemudian pada sekitar minggu ketiga Desember ini pengapalan pertama RON 90 akan dilakukan menuju pelabuhan Tanjung Priok.

Demikian disampaikan VP Komunikasi Pertamina Wisnuntoro ketika dihubungi detikFinance, Kamis (6/12/2007).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Rencananya tanggal 20 ini (Desember) atau sekitar minggu ketiga pengapalan pertamanya ke Tanjung Priok," katanya.

Produksi RON 90 pada awalnya memang akan dilakukan di kilang Plaju. Namun nantinya kilang Balongan akan menjadi kilang utama yang memproduksi BBM berwarna hijau itu.

"Nanti bertahap kita juga siapkan kilang lainnya seperti Balikpapan dan Cilacap," tambahnya.

Wisnuntoro mengaku Pertamina tidak kesulitan memproduksi RON 90 karena tidak terlalu berbeda dengan RON 88. Yang beda hanya komposisi campurannya.

Kalau RON 88 dibuat dari Nafta (RON 80) yang diproduksi kilang, kemudian ditambah HOMC untuk meningkatkan kandungan oktannya. Untuk menjadikan RON 90, maka kandungan HOMC harus ditambah.

Impor HOMC untuk memenuhi kandungan HOMC ini, Pertamina masih akan mengimpor sebagian dari Singapura.

Untuk 2008, rencananya Pertamina akan melakukan pengalihan BBM ini di Jabodetabek, Banten, Bali dan Batam. Karena di daerah inilah yang terdeteksi bahwa penggunaan Pertamax sudah cukup tinggi.

"Bahkan di Batam penjualan Pertamax lebih tinggi dari Premium," katanya.

Sementara 2009 akan diperluas ke daerah Jawa lainnya, seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur dan di 2010 menyusul sisanya.

Dari data yang diperoleh, konsumsi premium 2006 di Jakarta mencapai 1,971 juta kilo liter, Jawa Barat 2,815 juta kilo liter, dan Banten sekitar 768.844 kiloliter.

Jumlah SPBU di Jakarta 260 unit, sementara di Jabodetabek sekitar 600 unit, dan di UPmS III (Jakarta, Banten, Jabar) sekitar 1.300 unit.

Dalam RAPBN 2008, alokasi subsidi premium dipatok Rp 7,87 trilim dengan kuota volume 16,95 juta kiloliter. (lih/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads