Ekonom Optimistis Ekonomi RI, Publik Malah Makin Pesimistis

Ekonom Optimistis Ekonomi RI, Publik Malah Makin Pesimistis

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Kamis, 27 Agu 2026 10:31 WIB
Para pekerja menyelesaikan proyek revitalisasi di kawasan wisata Kota Tua, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Ilustrasi Pandangan Kondisi Ekonomi RI / Foto: Ari Saputra/detikFoto
Jakarta -

Pandangan ekonom terhadap kondisi perekonomian Indonesia berbeda dengan persepsi masyarakat secara umum. Para ekonom dan responden berlatar belakang ekonomi dan bisnis optimistis terhadap ekonomi Indonesia pada semester II-2026. Masyarakat umum sebaliknya.

Hal tersebut tertuang dalam survei yang dilakukan Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP ISEI). Survei dilakukan secara online dan melibatkan 4.012 responden yang memiliki latar belakang ekonomi.

Hasil survei menunjukkan para ekonom dan responden menilai positif pertumbuhan ekonomi pada semester I-2026. Hal itu tercermin dari indeks persepsi sebesar 60. Kinerja pertumbuhan ekonomi sekitar 5% dinilai menjadi modal untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Optimisme bahkan meningkat ketika responden ditanya mengenai prospek ekonomi pada semester II-2026. Indeks persepsi mencapai 62,3, lebih tinggi dibandingkan dengan semester I-2026.

"Para ekonom dan responden berlatar belakang ekonomi dan bisnis pada umumnya mempunyai persepsi positif terhadap pertumbuhan ekonomi pada semester 1 tahun 2026 ini (indeks 60). Kinerja pertumbuhan 5 persen dinilai sebagai modal untuk terus mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional," kata Ekonom Senior sekaligus Pengurus Pusat ISEI, Didik J Rachbini, dalam keterangannya, Kamis (27/8/2026).

ADVERTISEMENT

"Persepsi para ekonom dan responden berlatar belakang ekonomi dan bisnis tentang pertumbuhan ekonomi semester 2 yang akan datang optimis (indeks 62,3), seperti ditunjukkan dalam indeks yang lebih tinggi dibandingkan dengan indeks semester pertama," lanjutnya.

Optimisme tersebut juga terlihat dari pandangan responden terhadap kinerja ekspor. Ekspor dinilai akan tumbuh lebih baik dibandingkan impor, dengan indeks sebesar 60,3.

Untuk semester II-2026, keyakinan terhadap kinerja ekspor bahkan meningkat. Indeks persepsi mencapai 62. Meski demikian, responden masih kurang yakin terhadap kondisi pengangguran dan tingkat inflasi.

Berbeda dengan Persepsi Publik

Optimisme para ekonom tersebut berbeda dengan hasil survei terhadap masyarakat secara umum. Didik membandingkannya dengan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Juli 2026. Berdasarkan survei tersebut, penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional berada pada level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Sebanyak 49,4% responden menilai kondisi ekonomi nasional saat ini buruk atau sangat buruk. Sementara itu, hanya 15,7% masyarakat yang menilai kondisi ekonomi dalam keadaan baik atau sangat baik.

Perbedaan hasil tersebut dinilai berkaitan dengan karakteristik responden. Survei ISEI menggunakan metode purposive sampling dan secara khusus menyasar responden dengan latar belakang ekonomi dan bisnis. Sementara itu, survei terhadap publik secara umum menggunakan responden yang dipilih secara acak.

"Bagaimana survei ini bisa berbeda? Responden yang pertama (diambil secara purposive) adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan lebih mendalam dibandingkan dengan survei publik, yang diambil secara acak," ujar Didik.

"Survei yang pertama melihat keadaan lebih realistis karena mengetahui dengan lebih benar dibandingkan dengan yang kedua, yang lebih merupakan persepsi," sambungnya.

Ekonom Masih Ragu Soal Kepastian Hukum

Di tengah optimisme terhadap perekonomian, para ekonom justru memberikan penilaian yang relatif rendah terhadap kepastian hukum.

Indeks persepsi terhadap kemampuan pemerintah dalam menjamin kepastian hukum tercatat 53,4. Artinya, responden belum yakin pemerintah dapat menjamin kepastian hukum dengan baik. Penilaian tersebut relatif sejalan dengan persepsi masyarakat dalam survei SMRC.

Dalam survei tersebut, hanya 26,4% masyarakat yang menilai penegakan hukum berjalan baik atau sangat baik. Sebanyak 37,6% menilainya buruk atau sangat buruk, sementara 30,2% menilai kondisi penegakan hukum sedang.

Didik mengatakan optimisme anggota ISEI terutama terlihat dari ekspektasi bahwa kondisi perekonomian akan membaik dalam enam bulan ke depan. Namun, sejumlah tantangan masih perlu diwaspadai, terutama daya beli masyarakat, kenaikan harga pangan dan energi, serta defisit APBN.

"Kesimpulan dari survei ISEI ini adalah optimisme yang cukup menonjol dimana anggota ISEI memiliki ekspektasi kondisi perekonomian akan semakin baik dalam 6 bulan ke depan (semester kedua)," kata Didik.

"Namun tantangan yang menghadang tidak lain adalah daya beli masyarakat, peningkatan harga-harga (pangan dan energi), defisit APBN. Berbeda dengan persepsi umum, anggota ISEI cukup percaya bahwa pemerintah (pusat dan daerah) dinilai memiliki kemampuan dalam peningkatan perekonomian Indonesia," pungkasnya.

Simak juga Video 'Ekonomi RI Tumbuh 5,29%, Apa Dampaknya ke Masyarakat?':

(fdl/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads