Ekspor RI Bisa Tambah US$ 5 Miliar, Ini Sumbernya

Ekspor RI Bisa Tambah US$ 5 Miliar, Ini Sumbernya

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 02 Sep 2026 11:42 WIB
Ilustrasi untuk impor atau ekspor.
Foto: Andy Li/Unsplash
Jakarta -

Indonesia dinilai masih memiliki peluang untuk mengoptimalkan nilai ekspor hingga sekitar US$ 5 miliar per tahun. Potensi tersebut teridentifikasi dari analisis terhadap ribuan transaksi ekspor yang mencakup berbagai komoditas, pelabuhan, hingga negara tujuan.

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin mengatakan visibilitas perdagangan semakin penting di tengah tekanan terhadap kinerja ekspor dan meningkatnya ketidakpastian global.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$ 1,61 miliar pada Mei 2026. Kondisi tersebut mengakhiri tren surplus perdagangan yang berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Pada Juni 2026, neraca perdagangan kembali mencatat defisit sebesar US$ 450 juta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Eddy, kondisi tersebut perlu menjadi momentum untuk mengevaluasi strategi ekspor Indonesia.

"Pada kuartal yang baru dirilis, neraca perdagangan kita bahkan sudah tidak surplus lagi. Artinya, perlu ada refleksi dan koreksi mengenai strategi ekspor di tengah kondisi ketidakpastian global," ujar Eddy, Rabu (2/9/2026).

ADVERTISEMENT

Dalam situasi tersebut, integrasi data perdagangan dinilai dapat membantu pemerintah melihat aktivitas ekspor hingga tingkat transaksi. Informasi yang terhubung tidak hanya mencakup nilai dan volume, tetapi juga kualitas komoditas, harga, klasifikasi produk, lokasi pengiriman, negara tujuan, hingga penerimaan devisa.

"Visibilitas yang tinggi merupakan hal yang relevan dan pivotal karena dapat memperkuat transparansi, objektivitas, dan kepastian dalam hal kuantitas, lokasi tujuan, perpajakan, dan aspek lainnya," kata Eddy.

Sejak mulai beroperasi pada 1 Juni 2026, PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI telah membangun visibilitas analitis atas sekitar 6.500 deklarasi ekspor dengan nilai lebih dari US$ 14 miliar dan volume melampaui 90 juta ton komoditas.

Transaksi tersebut bergerak melalui lebih dari 50 pelabuhan muat di 25 provinsi menuju lebih dari 100 negara tujuan.

Data ekspor nasional tersebut kemudian diintegrasikan dengan referensi pasar global. Informasi yang dipantau mencakup harga, volume, kualitas, klasifikasi Harmonized System (HS), kapal pengangkut, dan pasar tujuan.

Integrasi tersebut memberikan gambaran mengenai alur perdagangan dan nilai komoditas sepanjang rantai ekspor.

Dari analisis awal bersama sejumlah badan usaha milik negara, ditemukan potensi optimalisasi nilai sekitar US$ 5 miliar per tahun.

Eddy menilai integrasi data tersebut dapat menjadi dasar untuk memahami struktur perdagangan dan menyusun strategi ekspor yang lebih tepat. Namun, menurutnya, visibilitas data saja belum cukup untuk meningkatkan kinerja ekspor.

"Visibilitas semata belum tentu dapat menggenjot ekspor. Yang diperlukan juga adalah strategi mengelola sumber daya, meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, memperluas perjanjian perdagangan bebas, memetakan negara tujuan ekspor, dan mengimplementasikan strategi global," katanya.

Menurut Eddy, penguatan perdagangan komoditas membutuhkan pembagian peran yang jelas. DSI menjalankan peran strategis melalui integrasi data dan penguatan visibilitas, sementara implementasi pada tingkat bisnis membutuhkan partisipasi aktif perusahaan eksportir.

"Visibilitas dan top-level strategy dari DSI pada akhirnya membutuhkan implementasi dan business-level strategy dari para eksportir," ujarnya.

Direktur Utama DSI Luke Mahony mengatakan fokus DSI saat ini adalah membangun sistem dan kapabilitas untuk menjalankan mandatnya secara kredibel, terukur, dan berkelanjutan.

"Sejak mulai beroperasi, kami telah mengembangkan visibilitas terhadap ribuan transaksi ekspor serta fondasi analitis yang diperlukan untuk mendukung mandat DSI. Kami akan terus mengukuhkan kapabilitas pemantauan, verifikasi, dan operasional guna mendukung ekosistem ekspor yang lebih transparan, akuntabel, dan efisien, sekaligus menjaga kepastian berusaha dan keberlanjutan ekspor," ujar Luke dalam keterangan resminya, Senin (24/8).

Eddy menilai kombinasi antara visibilitas perdagangan dan peningkatan daya saing oleh eksportir berpotensi memperbaiki kinerja perdagangan, memperkuat devisa hasil ekspor, serta memberikan dampak lebih besar bagi perekonomian nasional.

"Peran DSI sangat strategis, tetapi implementasinya tetap memerlukan partisipasi aktif perusahaan-perusahaan eksportir," pungkasnya.

(fdl/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads