Kontrak tersebut terdiri dari 3 kontrak yaitu pertama, pembangunan transmisi Buroko-Isimu 150 KV dan PLTU Gorontalo-Incomer senilai Rp 112,07 miliar. Kedua, pembangunan transmisi 150 KV di Isimo-Marisa senilai Rp 121,929 miliar. Ketiga, pembangunan Gardu Induk 150 KV Isimu senilai Rp 52,596 miliar. Total panjang transmisi 3 proyek ini sepanjang 200 kilometer.
Untuk kontrak pertama pembangunan transmisi Buroko-Isimu dan PLTU Gorontalo-Incomer dilakukan dengan konsorsium PT Perfect Circle Engineering, CV Montana, PT Jembo Cable.
Kontrak kedua pembangungan transmisi Isimo-Marisa dilakukan dengan konsorsium PT Bukaka Teknik Utama, PT Baruga Asri Nusa Development dan PT Trimurti Sarana Makmur.
Kontrak ketiga untuk GI Isimu dilakukan dengan konsorsium PT Multi Fabrindo Gemilang, PT Baruga Asri Nusa Development, PT Trimurti Sarana Makmur. Jangka waktu pembangunannya 570 hari, terhitung dari 10 Desember 2007 sampai 1 Juli 2009.
Penandatanganan kontrak dilaksanakan di kantor PLN Pusat, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Senin (10/12/2007).
Menurut Direktur Pembangunan Transmisi dan Distribusi PLN, Herman Darnel Ibrahim 3 kontrak tersebut merupakan bagian dari kontrak transmisi di Gorontalo dan Minahasa senilai Rp 510 miliar. Dari jumlah itu, Rp 440 miliar dialokasikan untuk pembangunan transmisi di Gorontalo dan Rp 70 miliar untuk transmisi di Minahasa.
"Manfaat dari pembangunan transmisi itu adalah menggantikan transmisi yang isolated diseluruh Gorontalo yang setara dengan 35 megawatt. Dengan pembangunan interkoneksi melalui pembangunan transmisi ini, jika pasokan dari satu pembangkit mati, bisa dialihkan dari pasokan yang lain," urainya.
Pembangunan transmisi ini juga untuk menggantikan sumber pasokan dari PLTD menjadi pasokan dari PLTU. Dengan penggantian pasokan itu, maka ongkos produksi akan jauh lebih hemat.
"Dengan PLTD biaya yang dibutuhkan Rp 2000 per kwh, dengan PLTU lebih murah menjadi Rp 200-300 per KWH," ungkapnya.
(qom/ir)











































