Hadapi Kemarau Kering, Pemerintah Tambah Alokasi Beras SPHP 1 Juta Ton

Hadapi Kemarau Kering, Pemerintah Tambah Alokasi Beras SPHP 1 Juta Ton

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 07 Sep 2026 12:55 WIB
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan
Foto: Dok. CNBC Indonesia
Jakarta -

Pemerintah menambah alokasi penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Medium hingga 1 juta ton sampai akhir tahun 2026. Langkah ini dilakukan untuk mempertebal stok beras di pasar seiring pelemahan produksi akibat musim kemarau kering yang diperkirakan berlangsung hingga awal tahun depan.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan alias Zulhas, menyampaikan bahwa penambahan pasokan ini diperlukan karena tipisnya produksi beras dari petani pada musim gadu tahun ini.

Menurutnya hal ini sedikit berbeda dengan kondisi tahun sebelumnya. Di mana saat itu Indonesia masih menghadapi kemarau basah, sehingga masih ada hujan dan para petani masih bisa berproduksi meski mengalami penurunan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tahun ini kering, tidak ada, hampir tidak ada lagi sawah petani yang produksi yang kita sebut paceklik atau gadu ya. Jadi nggak ada produksi," kata Zulhas dalam konferensi pers usai rapat di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2026).

Ia mengatakan alokasi beras SPHP 1 juta ton ini merupakan penambahan dari alokasi sepanjang 2026 yang sebelumnya sudah ditetapkan sebesar 828.000 ribu ton. Sehingga total beras SPHP yang akan disalurkan pemerintah melalui Perum Bulog hingga akhir tahun ini mencapai 1,82 juta ton.

ADVERTISEMENT

"Kemarin 828.000, sudah tinggal 80.000 lagi, medium ya SPHP itu. Kita tambah lagi tadi 1 juta, 1 juta SPHP medium. Jadi beras yang subsidi yang dijual di pasar kira-kira harganya 12 ribu, 12.500 paling mahal," ujar Zulhas.

"1 juta SPHP medium tambahan untuk Oktober, November, Desember. Karena ini nggak ada panen, karena musim kemarunya panjang," tegasnya lagi.

Selain mempertebal stok beras medium di pasar, menurut Zulhas penambahan alokasi penyaluran SPHP ini dimaksudkan untuk menurunkan kenaikan harga yang terjadi imbas pelemahan produksi beras domestik.

"Karena supply and demand, tidak ada produksi, pasti harganya naik. Ada naik Rp 100-200. Nah untuk merespons itu, maka kami baru saja rapat memutuskan, kita tambah suplainya untuk yang beras subsidi, yang kita kenal dengan SPHP," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramali, mengungkapkan bahwa kuota tambahan dari pemerintah ini jauh melampaui usulan awal pihaknya untuk mengamankan stok beras akhir tahun dan hari besar keagamaan.

"Beras SPHP alokasi penambahannya, awalnya kami mengajukan 400.000 ton untuk mengantisipasi karena beras SPHP sekarang yang ada di gudang-gudang Bulog tinggal sekitar 100.000 ton untuk menghadapi bulan September, Oktober, November, Desember," kata Ahmad.

"Karena di akhir tahun biasanya ada hari kebesaran agama, maka perlu kebutuhan lebih besar. Kami ajukan lebih kurang 400.000 ton, malah didukung oleh pemerintah 1 juta ton," sambungnya.

Rizal menambahkan pasokan tambahan tersebut difungsikan untuk memperkuat ketahanan stok nasional hingga memasuki masa panen raya pada Maret 2027 mendatang.

"Kan di bulan Januari, bulan Februari itu kan belum ada panen. Panen nanti di bulan Maret. Oleh karena itu yang usulan kami dari 400.000 dilipat-gantakan menjadi 1 juta sampai 2027, sampai di awal panen bulan Maret nanti," tuturnya.

(fdl/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads