SBY: Penggunaan Listrik Geothermal Harus di Atas 5%

SBY: Penggunaan Listrik Geothermal Harus di Atas 5%

- detikFinance
Selasa, 11 Des 2007 12:35 WIB
Bali, - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berharap penggunaan listrik tenaga panas bumi atau geothermal bisa lebih 5% dibanding saat ini.

SBY mengaku Indonesia kekurangan pasokan listrik, padahal Indonesia memiliki 40% dari cadangan panas bumi dunia yang belum dimanfaatkan maksimal.

Hal itu diungkapkan SBY dalam peresmian 4 Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) yakni Darajat, Kamojang, Lahendong dan Sibayak di Pulau Besar Nusa Dua, Bali, Selasa (11/12/2007).    

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

SBY juga mendukung segala upaya penggunaan energi bersih dan terbarukan termasuk panas bumi. Pemerintah menargetkan kebijakan mix energy pada 2025

"Penggunaan minyak fosil akan diturunkan 52% menjadi 20% dan energi geothermal naik lebih dari 5%," katanya.

Menurut SBY, Indonesia mengalami kekurangan listrik dari sejak zaman kemerdekaan. "Sampai dua tahun terakhir Indonesia baru memiliki 25 ribu MW," kata SBY.

SBY mengatakan program pemerintah menambah 10 ribu MW masih dirasa kurang. Sehingga pemerintah berharap dapat meningkatkan potensi energi panas bumi.

"Deposit kita 27 ribu MW atau 40% dari total cadangan panas bumi dunia, tapi yang baru digunakan 992 MW," ujarnya.

Sementara peresmian 4 PLTP tadi menelan investasi US$ 326 juta. PLTP itu masing-masing adalah PLTP Darajat unit III (110 MW) di Garut, PLTP Kamojang unit IV (60 MW) di Bandung, PLTP Lahendong unit II (20 MW) di Tomohon Sulut dan PLTP Sibayak unit I dan II masing masing 5 MW di Karo-karo Sumut.

Dalam acara tersebut dilakukan pula penandatanganan kerjasama transaksi karbon yang bernama Emissions Reduction Purchase Agreement (ERPA) antara PLN dan IBRD Nederland senilai 340 ribu tCER (ton carbon emissions reduction) yang setara US$ 5,5 juta. ERPA ini untuk PLTP Lahendong unit II.

Selain itu ERPA antara PLN dan Japan Carbon Finance Ltd untuk PLTP Lahendong unit III sebesar 260 ribu tCER yang setara US$ 3,5 juta.

Presiden juga menyaksikan penandatanganan kerjasama pembangkit listrik tenaga sampah (biomass) antara PLN distribusi Bali dan PT Navigat Organic Energy Indonesia.

(ir/ard)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads