RI Masih Defisit Sapi

RI Masih Defisit Sapi

- detikFinance
Selasa, 11 Des 2007 17:24 WIB
Jakarta - Meskipun Indonesia merupakan negara agraris yang banyak hewan ternaknya namun ternyata 30 persen daging sapi yang kita makan berasal dari sapi negara Selandia Baru dan Australia.

Hal ini disebabkan populasi sapi lokal terus mengalami penurunan hingga hanya bisa memenuhi sekitar 70 persen kebutuhan nasional. Sedangkan untuk kambing saat ini masih mencukupi sehingga tidak diimpor.

"Karena masih defisit berdasarkan UU no 6 tahun 1967 ekspor sapi betina dilarang, yang diperbolehkan hanya sapi jantan yang telah dikebiri," kata Dirjen Peternakan Departemen Pertanian, Tjeppy D Soedjana dalam perbincangannya dengan detikFinance,Jakarta, Selasa (11/10/2007).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Impor sapi masih berasal dari dua negara tersebut, sedangkan untuk impor asal Kanada dan Amerika Serikat masih dalam kajian. Tim asal Departemen Pertanian sudah berangkat ke negara tersebut untuk mengecek kesehatan dan menyiapkan veterinary health sertifikat sehingga impor dari negara tersebut belum dilakukan.

"Per tahun rata-rata impor sapi bakalan 350-400 ribu ekor, sedangkan berbentuk daging sapi impor 50 ribu ton," ujarnya.

Tjeppy menambahkan per tahunnya secara nasional kebutuhan sapi mencapai 1,5 juta ekor. Pusat peternakan sapi berada di Jawa Timur, Jawa tengah, NTT, NTB, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Namun karena sebagian besar berdasarkan hasil alam, populasinya tergantung musim, seperti di NTT musim kawin tergantung musim hujan, padahal musim hujan di kawasan tersebut hanya 3 bulan.

Sedangkan lokasi penggemukan sapi impor sebagian besar dilakukan di Lampung dan Banten, biasanya sapi bakalan ini diimpor saat beratnya masih 250-300 kilogram. Apabila beratnya dinilai sudah mencukupi sapi impor ini dikirim ke kota besar.
(arn/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads