Ekonomi RI Semester II Diramal Melambat, Tapi Ada Kabar Baik

Ekonomi RI Semester II Diramal Melambat, Tapi Ada Kabar Baik

Heri Purnomo - detikFinance
Kamis, 10 Sep 2026 18:12 WIB
Economist Intelligence Unit (EIU) memprediksi perekonomian Indonesia tumbuh pesat tahun ini. Pertumbuhan itu disebut melampui negara tetangga Malaysia.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Senior Economist DBS Group Research Radhika Rao memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II-2026 akan lebih lambat dibandingkan semester I-2026. Meski begitu, pertumbuhan ekonomi semester II diramal tetap berada di angka 5%.

Sebagai informasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I-2026 berada di angka 5,45%.

Radhika menyampaikan perlambatan pertumbuhan ekonomi pada semester II ini terjadi karena tidak adanya faktor pendukung seperti pada semester I 2026 yang antara lain seperti momentum Lebaran, stimulus pemerintah, serta tingginya belanja pemerintah pada awal tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada semester kedua tahun ini, kami melihat pertumbuhan masih bertahan di atas 5%, tetapi beberapa faktor sementara tersebut tidak akan terulang kembali. Itulah mengapa kami memperkirakan laju pertumbuhan yang sedikit lebih lambat," katanya dalam acara media briefing di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Meski adanya perlambatan pertumbuhan pada semester II-2026, pihaknya menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,3% dari perkiraan sebelumnya yang berada di bawah angka 5,3%.

ADVERTISEMENT

Radhika menyampaikan terdapat faktor yang menyebabkan pihaknya menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Mulai dari masih tingginya belanja pemerintah serta konsumsi masyarakat yang masih baik. Ia menilai kondisi ini terjadi karena harga BBM subsidi yang tidak naik.

"Karena kombinasi tersebut, kami harus menaikkan proyeksi pertumbuhan. Pertumbuhan diperkirakan lebih kuat dari perkiraan sebelumnya. Angka kami sekarang adalah 5,3%. Sebelumnya, angka saya untuk tahun ini, untuk 2026, lebih rendah dari itu," ujarnya.

Saat ditanya soal proyeksi tahun depan, Radhika mengatakan ekonomi Indonesia akan berada di kisaran 5,2-5,3%. Proyeksi tersebut masih ditopang oleh faktor domestik, terutama permintaan dalam negeri.

"Secara global, kita tidak terlalu yakin apa yang akan terjadi dengan geopolitik dan harga minyak. Namun ketika melihat faktor domestik, menurut saya di situlah pemerintah atau pembuat kebijakan dapat memberikan pengaruh. Karena itu, kami memperkirakan faktor permintaan domestik kembali menjadi pendorong pertumbuhan sekitar 5,2-5,3% pada 2027," ujarnya.

(hrp/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads