Kenaikan BBM Sulit Dihindari

Kenaikan BBM Sulit Dihindari

- detikFinance
Kamis, 13 Des 2007 13:53 WIB
Jakarta - Inflasi dunia yang tinggi akibat harga minyak dan krisis subprime akan membayangi ekonomi Indonesia pada tahun 2008. Kenaikan harga minyak mentah internasional akan memaksa pemerintah untuk menaikkan harga BBM dalam negeri.

Hal tersebut disampaikan Kepala Ekonom Bank Mandiri Martin PH Panggabean dalam jumpa pers di Plaza Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (13/12/2007).

"Untuk harga minyak rata-rata 2007 adalah US$ 71,5 per barel, tapi 2008 asumsi rata-rata harga minyak sepanjang 2008 adalah 90 per barel jadi ada kenaikan 25 persen, itu pasti ada pengaruhnya terhadap penyesuaian harga BBM dalam negeri," ujarnya

Jika harga BBM dalam negeri naik, otomatis biaya operasional jadi tinggi sehingga harga komoditas ikut naik, ini juga akan berdampak pada inflasi yang tinggi pada 2008

"Dampak sektor riil harus sangat diperhatikan di 2008 jangan hanya terpatok kepada indikator makro saja, karena dari indikator-indikator makro itu pemerintah harus bisa memilih prioritas mana yang didahulukan, sehingga dampak dari sektor riil akibat perlambatan ekonomi dunia itu tidak berpengaruh tajam," ujarnya

Martin mengungkapkan 2 simulasi mengenai perkiraan ekonomi tahun depan. Yang pertama dengan asumsi harga minyak dunia  pada US$ 90 per barel diikuti dengan kenaikan harga  BBM dalam negeri  20 persen dengan kurs rata-rata Rp 9.700 per dolar AS. Dan simulasi kedua dengan  harga minyak dan kenaikan BBM yang sama namun ada pelemahan kurs menjadi Rp 10.000 per dolar AS.

"Pemerintah harus memilih mana yang menjadi prioritas , apakah akan menahan pelemahan kurs di level Rp 9.700 per dolar atau membiarkan kurs di level Rp 10.000," ujarnya.

Jika kurs dipertahankan pada Rp 9.700 maka nilai ekspor tidak akan meningkat tetapi angka pengangguran tertahan. Sementara jika rupiah dibiarkan melemah hingga Rp 10.000 per dolar, ekspor meningkat tetapi pengangguran makin banyak.

Martin mengatakan peranan pengendalian kurs menjadi sangat penting karena adanya trade off yang besar antara balance of payment (neraca pembayaran) dengan employment.

Kalau kurs turun terlalu tajam akan menyebabkan neraca pembayaran terselamatkan menjadi 1,84 persen dari PDB tapi tingkat pengangguran melonjak tajam.

"Tentu hal ini penting untuk diantisipasi karena dapat menimbulkan keresahan dalam masyarakat berekonomi lemah," ujarnya.
(ddn/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads