Hal tersebut disampaikan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro di Gedung ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (13/12/2007).
"Itu kita belum diputuskan apakah akan disubsidi atau tidak, itu kita masih lihat perkembangan ke depan, tergantung pemerintah," ujarnya.
Pengalihan premium biasa ke premium beroktan lebih tinggi yakni RON 90 itu menurutnya masih dikaji.
"RON 90 sampai saat ini masih jadi exercise karena kita sesuai dengan 9 langkah APBN 2008, itu kita akan tetap lakukan exercise dan kita masih lihat perkembangan ke depan," ujarnya.
Sebelumnya pemerintah berencana memberikan subsidi RpΒ 500 per liter untuk RON 90, namun dalam rapat di Ditjen Migas ESDM ada wacana untuk tidak mensubsidi bensin pengalihan itu.
Harga RON 90 yang diusulkan sebesar Rp 6.750 per liter dengan asumsi subsidi RpΒ 500 harganya akan menjadi Rp 6.250 per liter.
Purnomo menambahkan jika harga minyak tahun depan rata-rata berada pada level US$ 90 per barel maka pemerintah akan mengurangi susidi BBM dan subsidi listrik, dan meningkatkan produksi minyak.
"Yang kita lakukan adalah melakukan kajian dan exercise jika harga minyak mencapai US$ 100 per barel terus menerusΒ dari 1 Januari 2008 hingga 31 Desember 2008, maka itu yang akan kita lakukan dan sekarang masih kita kaji," ujarnya.
Produksi migas tahun depan diperkirakan akan mencapai 1,034 juta barel per hari. "Kita upayakan untuk mencapai asumsi kita 1,034 juta barel, kita minta BP Migas untuk bekerja keras," ujarnya.
(ddn/ir)











































