Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan stok beras dalam kondisi aman. Hal ini disampaikan Budi di tengah langkah tegas pemerintah menarik peredaran produk beras fortifikasi abal-abal yang tidak sesuai standar.
Budi mengatakan pihaknya menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Ia memastikan koordinasi lintas lembaga terus diperkuat bersama Kementerian Pertanian dan Bapanas untuk menjaga stabilitas pangan.
Sebagai langkah mitigasi untuk memastikan pasokan tetap aman dan tidak terjadi kelangkaan di pasaran, Perum Bulog akan menggelontorkan pasokan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebesar 1 juta ton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bulog kan sudah menyampaikan untuk pasok 1 juta ya, 1 juta ton SPHP berupa Beras Kita ya waktu itu rapat di Kemenko Pangan. Jadi, saya kira nggak ada masalah ya," ujar Budi saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026).
Saat ditanya mengenai kepastian stok di ritel, Budi memastikan pasokan aman dan jalur distribusi telah disiapkan untuk menyasar pasar-pasar rakyat.
"Enggak (langka) aman-aman. (Satu juta ton beras SPHP) untuk pasar rakyat," tambah ia.
Sebelumnya, pemerintah menindak tegas produsen beras fortifikasi yang diduga tidak sesuai dengan klaim gizi dan label kemasan. Masyarakat harus memperoleh produk beras fortifikasi yang sesuai dengan klaim produsen sebagaimana tertera dalam izin edar dan klaim kandungan gizi pada label kemasan.
11 pelaku usaha sebagai pemilik 25 izin edar merek beras fortifikasi tersebut telah diberikan surat peringatan oleh Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) dalam koordinasi Badan Pangan Nasional (Bapanas). OKKPD yang dilibatkan Bapanas antara lain DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I.Yogyakarta, dan Sumatera Utara.
Sampai minggu pertama September, seluruh merek beras fortifikasi bermasalah tersebut pun terpantau sudah menghentikan produksi merk tersebut. Kemudian sebanyak 12 merek beras fortifikasi tersebut telah melakukan penarikan stok dari tempat peredaran.
"Ternyata ada dugaan (kecurangan beras) beralih dari premium ke fortifikasi. Katanya fortifikasi, setelah kita cek di lab, ada 4 lab kredibel. Kita cek ternyata tidak sesuai dengan labelnya," ujar Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman dalam keterangan tertulis, Rabu (16/9).
Simak juga Video 'Mentan Ungkap 25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Abal-abal':
(acd/acd)









































