Hal tersebut disampaikan Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi kepada wartawan di gedung depkeu, Jalan Lapangan Banteng Timur, Jakarta, Kamis (13/12/2007).
"Mungkin minyak mentah tidak kembali ke US$ 70 per barel. Maka kenaikan pangannya akan terus terjadi," ujarnya.
Dampak kenaikan pangan sudah merasuk ke Indonesia. Harga jagung, kedelai, daging, dan terigu mengalami kenaikan. "Kita mengalami tekanan di sektorpangan," ujarnya.
Bayu mengaku tidak tahu apakah harga pangan akan kembali turun. "Kami tidak tahu. Para pedagang dan pelaku pun masih bingung harga komoditas itu akanbagaimana," ujarnya.
Harga pangan selain karena kenaikan harga minyak terjadi karena dua faktor, pertama perubahan iklim dan kedua terjadi karena kebijakan biofuel. Di Indonesia kasus perubahan iklim sudah terjadi, musim hujan mundur selama 2bulan. "Implikasinya banyak berdampak pada siklus produksi, pupuk, dan sebagainya," ujarnya.
Untuk biofuel, komoditas yang terkena adalah jagung dan kedelai. Menurut Bayu, di dunia itu terjadi perubahan mendadak akibat kebijakan AS dan Eropa yang menjadikan bioetanol sebagai mandatori energi maka terjadi permintaan jagungsampai 30%. Akibatnya harga jagung naik.
"Akibat langsung adalah dua, pertama harga kedelai naik karena lahan kedelai diubah ke jagung, jagung kan naik harga dan tiga bulanan, akibatnya pasokan kedelai menurun, sehingga harga naik. Akibat harga kedelai naik maka harga bahan baku minyak makan naik juga," ujarnya.
Karena jagung dan kedelai naik maka implikasinya harga pakan ternak akan naik. "Karena harga pakan naik harga semua daging naik, harga susu naik, jadi seluruh pangan naik," ujarnya.
(ddn/ir)











































