Orang RI Punya Kebiasaan Aneh Saat Beli Emas

Orang RI Punya Kebiasaan Aneh Saat Beli Emas

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 18 Sep 2026 12:47 WIB
Harga emas di Pegadaian hari ini Selasa, (19/7), terpantau mengalami kenaikan. Jumlah kenaikannya pun bervariasi berdasar berat dan cetakan.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Fenomena menarik terjadi di tengah masyarakat Indonesia saat berinvestasi emas. Alih-alih membeli emas saat harga mengalami penurunan, sebagian besar masyarakat justru gemar memborong logam mulia ketika harga sedang melonjak.

Direktur Teknologi Informasi dan Digital PT Pegadaian, Yos Iman Jaya Dappu, menilai fenomena ini terjadi lantaran mayoritas masyarakat melakukan investasi emas karena terdorong rasa takut ketinggalan momen atau fear of missing out (FOMO).

"Masyarakat Indonesia mayoritas masih FOMO. Jadi jumlah orang yang beli emas pada saat harga turun justru malah turun. Buktinya di sistem kita bilang beberapa hari terakhir begitu harga emas mulai naik lagi, jumlah transaksi yang beli emas naik lagi," ujar Yos saat ditemui usai Peluncuran bluInvest Emas di Jakarta Pusat, Jumat (18/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yos menegaskan fenomena ini membuktikan jika masalah utama dalam berinvestasi khususnya untuk instrumen logam mulia bukan terletak pada daya beli atau kemampuan finansial masyarakat, melainkan pada pemahaman literasi keuangan.

"Saya agak nggak ngerti juga kalau dibilang daya beli. Ternyata orang Indonesia masih mumpuni gitu loh. Toh kita mulainya dari Rp 10.000 kan," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Melihat fenomena ini, Yos mengimbau masyarakat untuk mengubah pola pikir dalam berinvestasi emas. Seharusnya momen ketika harga sedang turun menjadi kesempatan untuk membeli emas, bukan malah sebaliknya.

"Agak aneh kalau orang baru beli saat harga naik. Pada saat sekarang seperti ini ketika harga emas lagi turun justru ini saatnya untuk membeli emas, baik melalui tabungan emas maupun fisik," jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa emas bukanlah instrumen investasi jangka pendek atau alat perdagangan harian (trading). Sebab, jika diperlakukan seperti trading, investor akan selalu kalah oleh selisih harga jual kembali (buyback) dan harga beli.

"Kalau emas itu teman-teman perlakukan layaknya trading, setiap hari harga emas itu antara jual dan beli itu selalu lebih murah yang belinya. Pada saat dijual pasti akan, kalian akan kalah harga, sudah pasti," tutur Yos.

"Makanya, uang yang nanti mau ditaruh untuk investasi emas itu bukan yang nanti uang dipakai untuk dana darurat. Tapi emas dipakai untuk kondisi darurat, iya. Tapi uang yang dipakai jangan kemudian besok 'wah mendadak harus saya ambil lagi'. Itu sudah pasti kalah," tambahnya.

(igo/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads