Drama CEO Menyamar, Cuan Menggelegar

Laporan dari Beijing

Drama CEO Menyamar, Cuan Menggelegar

Ardhi Suryadhi - detikFinance
Rabu, 23 Sep 2026 11:43 WIB
Kantor Dramabox di Beijing, China
Kantor Dramabox di Beijing, China / Foto: Ardhi Suryadhi
Beijing -

CEO menyamar menjadi karyawan biasa. Pria miskin ternyata pewaris keluarga kaya. Atau perempuan sederhana yang tiba-tiba terlibat kisah cinta dengan pria superkaya.

Cerita-cerita semacam itu mungkin terdengar klise. Namun di industri mini drama, formula tersebut justru menjadi salah satu resep mujarab untuk merebut perhatian penonton.

Hal itu tervalidasi saat detikcom berkunjung ke kantor Dramabox di Beijing, China. Platform mini drama ini menghadirkan serial dengan episode singkat, tetapi memiliki konflik yang bergerak cepat dan dibuat untuk membuat penonton terus melanjutkan cerita.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Daniel Wang, Global Director of Data & Innovative Marketing DramaBox, mengatakan booming mini drama tidak terlepas dari perkembangan teknologi sekaligus perubahan perilaku pengguna.

Masyarakat kini semakin banyak menghabiskan waktu dengan smartphone dibandingkan televisi. Cara menikmati hiburan pun ikut berubah. Pengguna lebih suka mengakses konten melalui perangkat yang selalu berada dalam genggaman dan dapat dinikmati secara personal.

ADVERTISEMENT

Namun memang, lanjut Daniel, teknologi saja tidak cukup cerita tetap menjadi kunci. Mini drama harus mampu menyentuh emosi penonton dan membuat mereka merasa cerita tersebut relevan atau menarik. Karena durasinya pendek, daya tarik cerita harus muncul sejak awal.

"Cerita harus bisa menarik emosi penonton dalam satu sampai dua menit pertama," ujarnya saat berbincang di kantor Dramabox.

Setelah penonton masuk ke dalam cerita, konflik berikutnya akan membuat mereka semakin terikat. Di sinilah format mini drama memiliki karakter yang berbeda dari serial televisi konvensional.

Cerita bergerak dengan pace cepat. Tidak banyak waktu untuk membangun konflik secara perlahan. Setiap episode harus memberikan sesuatu kepada penonton: konflik, kejutan, emosi, atau pertanyaan yang membuat mereka penasaran dengan episode selanjutnya.

Misalnya, setelah karakter diperlakukan rendah oleh orang lain, akhirnya identitas aslinya terbongkar dan dia mendapatkan pengakuan atau membalas perlakuan tersebut. Penonton merasa, "Nah, ini yang gue tunggu!".

Bisa juga, cerita tentang CEO yang menyamar misalnya. Di sini memungkinkan konflik muncul dengan cepat: seorang bos kaya berpura-pura menjadi orang biasa, kemudian menghadapi berbagai perlakuan dari orang-orang di sekitarnya sebelum identitas aslinya terbongkar.

Formula serupa muncul dalam cerita tentang seseorang yang terlihat miskin tetapi ternyata berasal dari keluarga kaya raya, atau romansa antara orang sederhana dengan sosok superkaya.

Cerita-cerita tersebut memiliki satu kesamaan: mudah dipahami, konflik cepat muncul, dan emosi penonton segera dimainkan. Satu episode selesai, penonton penasaran, episode berikutnya dimulai. Begitu seterusnya hingga puluhan episode.

Cuan Besar dari Layar Kecil

Formula drama 1 menit tersebut ternyata telah berkembang menjadi bisnis besar di China. Berdasarkan data yang dipaparkan DramaBox, nilai pasar mini drama China mencapai sekitar US$ 25 miliar pada tahun 2026, naik dari sekitar US$ 15 miliar pada 2025.

Jika angka tersebut digunakan sebagai pembanding, nilai pasar mini drama bahkan telah melampaui pendapatan gabungan platform streaming tradisional China yang disebut sekitar US$ 12 miliar pada 2025. Total box office domestik China pada tahun yang sama disebut sekitar US$ 7,5 miliar.

Dengan skala tersebut, mini drama tidak lagi bisa dilihat hanya sebagai hiburan ringan di smartphone. Ia telah menjadi industri tersendiri.

Dari sisi penonton, monthly active users mini drama di China disebut telah mencapai sekitar 700 juta pengguna, dengan rata-rata waktu menonton sekitar 129 menit per pengguna per hari.

Angka ini menunjukkan bagaimana format drama berdurasi sangat pendek justru dapat menghasilkan waktu konsumsi yang panjang ketika episode ditonton secara beruntun.

Dunia Baru Mulai Menonton

China saat ini menjadi pasar terbesar. Namun, DramaBox melihat peluang yang lebih besar justru berada di luar China. Daniel menyebut pasar global mini drama di luar China baru berada pada tahap awal.

Nilainya diperkirakan baru sekitar US$ 5 miliar pada 2026, naik dari sekitar US$ 3 miliar pada 2025. Sebagai perbandingan, revenue streaming global di luar China disebut mencapai sekitar US$ 160 miliar pada 2025, sedangkan box office global di luar China sekitar US$ 25 miliar.

Jumlah pengguna mini drama di luar China juga masih berada di kisaran 200-300 juta MAU (monthly acitve user), dengan rata-rata waktu menonton sekitar 20-30 menit per hari.

"Pasar global mini drama di luar China baru saja dimulai, tetapi potensinya luar biasa besar," kata Daniel.

Untuk mengejar pasar tersebut, DramaBox membangun jaringan global. Kantor pusatnya berada di Singapura, dengan kantor di sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat. Studio produksinya juga tersebar di Meksiko, Kolombia hingga Brasil.

CEO Menyamar Diproduksi AI

Ada satu faktor lain yang membuat industri ini bergerak semakin cepat: artificial intelligence (AI). Marcela Kartaszewicz, Head of Communication DramaBox, menyebut perkembangan Artificial Intelligence Generated Content (AIGC) semakin kencang di industri mini drama.

Menurutnya, lebih dari 50% konten yang diproduksi DramaBox saat ini merupakan hasil AIGC. AI memungkinkan proses produksi berlangsung lebih cepat dan dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan produksi yang sepenuhnya menggunakan aktor manusia.

Perkembangan AI ini berpotensi mengubah cara industri memproduksi cerita. Jika sebelumnya produksi puluhan episode membutuhkan waktu, kru, lokasi dan aktor dalam jumlah besar, sebagian proses kini dapat dibantu teknologi.

Dengan kata lain, cerita tentang CEO menyamar, pewaris keluarga kaya, maupun berbagai kisah romansa lainnya kini dapat diproduksi dengan lebih cepat dan murah lewat AI.

Indonesia Ikut Dibidik

Dalam kunjungan ke kantor DramaBox di Beijing, ada satu hal menarik lainnya. Meski tidak diperbolehkan mengambil gambar di dalam kantor, kami bertemu dengan orang Indonesia yang bekerja di DramaBox dan menjadi bagian dari tim operasional untuk pasar Indonesia.

Maklum saja, Indonesia menjadi salah satu pasar yang diperhitungkan dalam ekspansi global mini drama. Dengan memanfaatkan teknologi dan AI, DramaBox menyebut mereka kini telah berekspansi menggunakan 16 bahasa di 76 negara.

Model bisnisnya pun tidak hanya mengandalkan satu sumber pendapatan. DramaBox memperoleh revenue dari in-app purchase, advertising, dan premium subscription.

Artinya, cerita seperti CEO menyamar bukan hanya dibuat untuk mendapatkan penonton. Cerita tersebut adalah pintu masuk menuju sebuah ekosistem bisnis.

Penonton datang karena penasaran dengan cerita. Mereka bertahan karena konflik dan emosi. Kemudian engagement tersebut dikonversi menjadi revenue melalui pembelian dalam aplikasi, iklan maupun layanan premium.

Pada akhirnya, fenomena DramaBox menunjukkan satu perubahan besar dalam industri konten. Persaingan bukan lagi semata-mata siapa yang mampu membuat produksi paling mahal atau cerita paling panjang.

Tetapi siapa yang mampu merebut perhatian dalam hitungan detik, membuat penonton terikat secara emosional, lalu membuat mereka ingin kembali untuk melihat cerita berikutnya.

Dan mungkin itu sebabnya CEO menyamar bisa menjadi bisnis yang serius. Bukan karena ceritanya selalu baru. Tetapi karena cara menceritakannya berhasil mengikuti cara baru manusia mengonsumsi hiburan.

(ash/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads