Â
Hal ini disampaikan oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S. Goeltom dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap FEUI, di Fakultas kedokteran UI, Salemba, Jakarta, Sabtu (15/12/2007).
"Hal ini sangat relevan dengan tantangan ekonomi global bagi perekonomian Indonesia dalam bentuk ketidakpastian yang semakin tinggi di sektor keuangan, seperti krisis subprime dan kenaikkan harga minyak memperlihatkan bahwa sebagai negara terbuka kita tidak bisa menutup dampak ini," jelasnya.
Miranda menjelaskan, SWF ini nantinya akan mengelola dana-dana yang berasal dari sebagian penerimaan pemerintah yang sudah disisihkan.
"Baik dari komoditas, minyak dan sebagainya, itu bisa disisihkan dalam bentuk SWF itu," jelasnya.
Selanjutnya dana yang dikelola SWF itu akan diinvestasikan kepada sejumlah instrumen investasi dengan tujuan meraup laba tanpa embel-embel politik. Namun menurut dia, investasi yang diambil adalah yang tidak berisiko tinggi.
Â
"Negara yang ada SWF dapat digunakan sebagai penyangga untuk memperkecil shock yang terjadi, jadi perlu ada dukungan seperti itu, jadi SWF memungkinkan negara memiliki sumber pendanaan dan ini lebih fleksibel daripada cadangan devisa yang dikelola BI, dalam arti ada keleluasaan yang lebih longgar dalam pengelolaannya," jelasnya.
Â
Dana yang dimiliki SWF memiliki berbagai fungsi. Misalnya untuk mensuplai kebutuhan dolar Pertamina saat akan impor yang biasanya akan menekan mata uang. Demikian pula jika misalnya ada shock nilai tukar, maka dana dari SWF bisa digunakan.
"Kalau bank sentral yang masuk ke pasar, masyarakat sudah bisa langsung membaca dan itu bisa menimbulkan dampak negatif. Tapi kalau SWF bisa berperan lebih," jelasnya.
Menurut Miranda, sejumlah negara sudah mulai mempersiapkan SWF ini misalnya Singapura, Malaysia dan Dubai.
Sebagai negara yang memiliki keunggulan dan kelimpahan komoditas untuk ekspor, lanjut Miranda, Indonesia rentan terhadap perkembangan terakhir di pasar internasional. Perkembangan pesat ini menuntut koordinasi kebijakan moneter dan fiskal untuk memiliki kreativitas dalam mempertahankan perannya menjaga stabilitas makroekonomi.
Â
"Untuk itu saya berkeyakinan bahwa pemerintah bersama dengan bank sentral harus mulai menyusun rencana konkret pembentukan SWF, pada dasarnya SWF harus dikelola dengan satu tujuan yakni perolehan hasil yang optimal," pungkasnya.
(dnl/qom)











































