Pertamina Genjot Hasil Panen Petani di Indramayu

Pertamina Genjot Hasil Panen Petani di Indramayu

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 23 Sep 2026 22:55 WIB
Pertamina genjot pertanian di Indramayu
Foto: Ignacio Geordi Oswaldo/detikcom
Indramayu -

Pertamina EP Zona 7 Regional Jawa Bagian Barat melalui Pertamina EP Jatibarang Field melangsungkan program pendampingan dan bantuan sektor pertanian di kawasan Jatisura, Indramayu. Hal ini berhasil memacu produktivitas hasil panen padi petani binaan.

Officer Communication Relation & CID PT Pertamina EP Zona 7, Noor Taufiq, mengatakan program ini sudah dimulai sejak 2025 lalu, dan kini pendampingan dan bantuan sudah memasuki massa panen kedua.

"Masyarakat yang berada di wilayah operasi kami, khususnya di Pertamina EP Jatibarang Field, 90%-nya bersinggungan dengan lahan pertanian. Sehingga ini merupakan salah satu concern kami bagaimana kita bisa berdaya bersama, bersinergi di mana ketahanan pangan dan ketahanan energi," kata Taufiq di Desa Jatisura, Indramayu, Rabu (23/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan sebelum dilakukannya program pendampingan, lahan sawah tadah hujan milik warga di kawasan tersebut memiliki tingkat produktivitas yang sangat rendah. Kala itu rata-rata sawah hanya bisa dipanen satu kali dalam sebulan atau sekitarnya dalam kurun waktu satu tahun.

Atas dasar itu, program pendampingan ini dimulai dengan melakukan uji laboratorium kadar unsur hara yang terkandung dalam tanah di lahan sawah bersama Universitas Padjadjaran.

ADVERTISEMENT

"Ketika pertama kali kami mendengar dari kelompok tani, kelompok masyarakat dari para petani di Desa Jatisura, kondisi unsur haranya memang sudah 'sakit', yang tadinya ditanami 2 kali setahun itu nggak bisa. Nah, makanya pertama kali yang kita lakukan, yang kita cek itu adalah unsur hara dengan melalui laboratorium yang berada di Universitas Padjadjaran," ujarnya.

"Dari lab itu kita tahu kandungan eh dari kandungan unsur hara elemen mana yang memang kurang dan elemen mana yang masih cukup baik. Di sanalah kita bisa melakukan proporsionalisasi pupuk," jelas Taufiq lagi.

Tak berhenti di sana, di saat yang bersamaan Pertamina juga membangun lima titik sumur bor untuk meningkatkan pengairan lahan pertanian, memberikan bantuan pengaplikasian agen hayati Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR), serta memasang Rumah Burung Hantu (Rubuha) guna mengendalikan serangan hama tikus secara alami.

Langkah penanganan komprehensif tersebut terbukti memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan volume panen petani dari 6,5 ton per hektare jadi 8,5 - 11 ton per hektare. Keberhasilan ini juga mendorong peningkatan frekuensi panen dari satu kali menjadi dua kali dalam setahun, sekaligus menekan biaya perawatan tanaman.

"Rata-rata produksi yang sebelumnya kami dampingi itu di 6,5 ton, saat ini kelompok tani pada saat panen, produksi GKP, gabah kering panennya itu di angka 8,5 sampai 11 ton bahkan," terang Taufiq.

Pada akhirnya, Taufiq mengatakan program yang pada awalnya dilakukan sebagai uji coba pada lahan pertanian seluas satu hektar dengan sepuluh petani tersebut kini terus berkembang luas. Pada musim tanam kedua, Pertamina EP Jatibarang Field telah mendampingi sekitar 60 petani yang terbagi ke dalam enam kelompok tani di Desa Jatisura dengan total luas lahan garapan mencapai 114 hektar.

"Kalau sampai kapan program ini dijalankan, ya harapan kami ketika ilmu ini sudah bisa kita transfer kepada masyarakat dan ketika ada bukti yang nyata," ucap Taufiq.

"Kita melihat dari musim tanam pertama itu baru 10 orang. Kemudian di musim tanam kedua, ketika melihat hasil di musim tanam pertama, yang 10 orang ini tuh dengan biaya perawatan yang rendah tapi dengan hasil yang ternyata 30 - 50% lebih tinggi, sehingga di musim tanam kedua banyak juga kelompok tani yang siap untuk beralih," pungkasnya.

(igo/hns)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads